Simon Weckert Ciptakan Kaos Pengelabui Kamera Pengawas AI
- 02 Sep 2026 01:13 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Seniman digital asal Berlin, Jerman, Simon Weckert, menciptakan sebuah kemeja bermotif warna-warni yang dirancang untuk mengelabui sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Karya bernama Digital Camouflage tersebut memanfaatkan pola visual khusus yang dapat mengganggu kemampuan sistem computer vision dalam mengenali manusia. Sekilas, kemeja tersebut terlihat seperti pakaian bermotif abstrak dengan perpaduan warna mencolok. Namun, desain tersebut tidak dibuat semata untuk kepentingan estetika. Pola pada kain dirancang menggunakan pendekatan adversarial attack, yakni teknik yang memanipulasi informasi visual agar sistem AI menghasilkan interpretasi yang keliru.
Dalam demonstrasi yang dipublikasikan Weckert, kamera yang menggunakan sistem deteksi objek memberikan penanda atau kotak identifikasi kepada orang-orang yang berada di dalam bidang pandang kamera. Namun, ketika seseorang mengenakan Digital Camouflage, sistem tersebut dalam kondisi tertentu tidak lagi memberikan penanda sebagai manusia. Weckert mengembangkan pola tersebut dengan memanfaatkan proses adversarial loop. Desain diuji berulang kali terhadap model deteksi objek hingga diperoleh pola yang mampu menurunkan kemampuan sistem dalam mengidentifikasi bentuk tubuh manusia. Pengujian yang ditampilkan menggunakan YOLO, sebuah sistem deteksi objek sumber terbuka, bukan sistem pengawasan pemerintah tertentu.
Cara kerja kemeja tersebut berkaitan dengan bagaimana AI mengenali objek. Sistem computer vision tidak melihat manusia dengan cara yang sama seperti mata manusia. Algoritma mempelajari pola statistik dari jutaan gambar untuk menentukan karakteristik yang berkaitan dengan suatu objek, termasuk bentuk kepala, bahu, torso, anggota tubuh, tepi objek, warna, dan tekstur. Pola pada Digital Camouflage dirancang untuk mengacaukan sejumlah karakteristik visual tersebut. Kombinasi warna yang sangat kontras dan bentuk yang saling bertumpuk dapat mengganggu kesinambungan siluet tubuh sehingga algoritma mengalami kesulitan mengelompokkan bagian-bagian tubuh sebagai satu objek manusia.
Karya tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan sistem pengawasan berbasis AI di ruang publik. Weckert secara khusus mengaitkan proyeknya dengan pemasangan sistem pengawasan berbantuan AI di kawasan Kottbusser Tor, Berlin. Sistem yang menjadi perhatian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kamera yang merekam gambar. Teknologi computer vision dapat digunakan untuk menganalisis objek dan perilaku yang terekam kamera secara otomatis. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa jauh masyarakat dapat mengetahui, mengontrol, atau menolak proses analisis otomatis terhadap aktivitas mereka di ruang publik.
Namun, Digital Camouflage tidak dapat dianggap sebagai pakaian yang membuat seseorang benar-benar tidak terlihat oleh kamera. Efektivitasnya bergantung pada sistem computer vision, model AI, posisi kamera, pencahayaan, jarak, sudut pandang, serta algoritma yang digunakan. Demonstrasi Weckert menggunakan sistem deteksi objek generik. Artinya, keberhasilan pola tersebut terhadap satu model AI tidak otomatis berarti pola yang sama dapat mengalahkan seluruh sistem pengawasan berbasis AI. Hal tersebut menjadi penting karena teknologi pengawasan modern dapat menggunakan lebih dari satu metode identifikasi. Selain deteksi manusia, sistem tertentu dapat memanfaatkan pengenalan wajah, analisis pola berjalan atau gait recognition, pelacakan objek, pengenalan kendaraan, serta metode analisis lainnya.
Dengan demikian, kemeja tersebut lebih tepat dipandang sebagai eksperimen seni dan teknologi yang menunjukkan salah satu kelemahan potensial sistem computer vision, bukan sebagai alat yang menjamin anonimitas seseorang di ruang publik. Dokumentasi resmi proyek Weckert juga menegaskan bahwa demonstrasi tersebut tidak dimaksudkan sebagai klaim mampu mengalahkan sistem pemerintah tertentu. Konsep yang digunakan Weckert sebenarnya bukan hal baru dalam penelitian keamanan AI. Para peneliti telah lama mengembangkan adversarial examples, yaitu input yang sengaja dimodifikasi sehingga sistem pembelajaran mesin memberikan prediksi yang salah meskipun perubahan tersebut terlihat kecil atau tidak signifikan bagi manusia.
Dalam konteks pakaian, pendekatan tersebut berkembang menjadi adversarial clothing. Pola tertentu ditempatkan pada pakaian untuk mengganggu kemampuan sistem computer vision dalam mendeteksi atau mengklasifikasikan tubuh manusia. Keunikan karya Weckert terletak pada penerapan teknik tersebut dalam bentuk pakaian yang dapat dikenakan sehari-hari. Pola yang dihasilkan tidak dibuat seperti perangkat elektronik atau alat khusus, melainkan menjadi bagian dari desain tekstil. Karya tersebut juga memperlihatkan adanya perlombaan antara kemampuan AI dan kemampuan manusia dalam menguji batas teknologi tersebut. Ketika sistem AI semakin mampu mengenali manusia dan perilaku secara otomatis, muncul pula berbagai metode untuk menguji apakah sistem tersebut benar-benar sekuat yang diklaim.
Referensi Lansiran :
Simon Weckert – Digital Camouflage, proyek resmi.
Designboom – Digital Camouflage collection proposes wearable shield against AI surveillance, 3 Agustus 2026.
Telset.id – Baju Anti AI Surveillance: Trik Seniman Kalahkan Kamera Pengawas, 27 Agustus 2026.
Innovation in Textiles – When fabric becomes invisible to AI, 28 Agustus 2026.
The Sun – 'Invisible' camouflage shirt can hide you from facial-recognition AI, 28 Agustus 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....