Cauliflower Ear, "Lencana" Kehormatan Bagi Para Petarung MMA

  • 31 Agt 2026 15:50 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Benturan, gesekan, dan tekanan berulang pada telinga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari olahraga bela diri kontak, termasuk mixed martial arts atau MMA. Salah satu dampak yang paling mudah dikenali adalah perubahan bentuk telinga yang dikenal sebagai cauliflower ear atau telinga bunga kol. Bentuk telinga yang menebal, berbenjol, dan tidak lagi memiliki kontur normal tersebut kerap dianggap sebagai semacam "lencana" kehormatan di kalangan petarung. Perubahan itu menunjukkan telinga telah mengalami trauma berulang selama latihan atau pertandingan. Namun secara medis, cauliflower ear bukanlah tanda keberhasilan berlatih, melainkan deformitas yang umumnya terjadi akibat hematoma pada daun telinga yang tidak ditangani dengan baik.

Cedera tersebut bermula ketika telinga menerima benturan atau gaya geser yang cukup kuat. Kondisi ini dapat menyebabkan pembuluh darah kecil di antara kulit dan tulang rawan telinga pecah sehingga darah berkumpul membentuk auricular hematoma. Darah yang terkumpul kemudian memisahkan jaringan pembungkus tulang rawan atau perikondrium dari tulang rawan di bawahnya. Pemisahan tersebut dapat mengganggu suplai darah menuju tulang rawan telinga. Apabila hematoma tidak segera ditangani atau kembali terbentuk, proses peradangan dan penyembuhan dapat menghasilkan jaringan fibrocartilage serta fibrosis. Jaringan tersebut kemudian membuat telinga menjadi keras, menebal, berkerut, dan membentuk tampilan menyerupai bunga kol. MMA menjadi salah satu olahraga yang memiliki risiko tinggi karena telinga petarung berkali-kali mengalami tekanan ketika melakukan grappling, clinch, takedown, maupun saat mempertahankan posisi di bawah lawan. Gesekan antara telinga dengan tubuh atau matras dapat menimbulkan gaya geser yang memicu terbentuknya hematoma.

Berbeda dengan beberapa cabang olahraga gulat yang memungkinkan atlet menggunakan pelindung telinga, petarung MMA umumnya bertanding tanpa pelindung telinga. Kondisi tersebut membuat daun telinga lebih rentan mengalami trauma langsung maupun gesekan selama latihan dan pertandingan. Literatur medis juga mencatat olahraga kontak seperti gulat, tinju, dan bela diri sebagai penyebab umum hematoma pada daun telinga. Pada tahap awal, cedera biasanya ditandai pembengkakan pada bagian telinga. Area tersebut dapat terasa lunak, nyeri, hangat, atau seperti terdapat cairan di bawah kulit. Bentuk telinga juga dapat berubah dalam waktu relatif singkat setelah trauma. Masalah muncul ketika pembengkakan tersebut dianggap sepele. Petarung yang tetap berlatih tanpa mendapatkan penanganan dapat mengalami pengumpulan darah kembali sehingga proses pembentukan jaringan abnormal terus berlangsung.

Semakin lama hematoma dibiarkan, semakin besar kemungkinan terbentuknya deformitas permanen. Karena itu, cauliflower ear sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai komplikasi dari hematoma telinga yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat waktu, bukan sebagai cedera yang sengaja perlu dipelihara oleh seorang petarung.

Penanganan awal bertujuan mengeluarkan darah yang terkumpul dan mengembalikan posisi jaringan sehingga suplai darah menuju tulang rawan dapat dipulihkan. Prosedur dapat berupa aspirasi atau drainase, kemudian dilanjutkan dengan pemberian tekanan pada area yang mengalami cedera untuk mencegah darah kembali terkumpul. Tekanan setelah tindakan menjadi bagian penting karena hematoma dapat kembali terbentuk apabila ruang antara kulit dan tulang rawan tidak tertutup dengan baik.

Berbagai metode dapat digunakan oleh tenaga medis, termasuk pressure dressing, bolster, jahitan tertentu, maupun perangkat kompresi. Penanganan tidak seharusnya dilakukan dengan menusuk atau mengeluarkan darah sendiri menggunakan jarum tanpa pengetahuan medis. Prosedur yang tidak steril dapat meningkatkan risiko infeksi, sementara pengeluaran darah yang tidak disertai kompresi dapat menyebabkan hematoma kembali terbentuk.

Selain risiko infeksi dan deformitas, kerusakan tulang rawan juga dapat menimbulkan masalah lain pada telinga. Dalam kondisi tertentu, perubahan struktur telinga dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kesulitan tidur pada sisi yang terkena, hingga gangguan pada bentuk saluran telinga. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan apabila cedera disertai gangguan pendengaran atau gejala lain yang mengarah pada cedera telinga yang lebih serius.

Pencegahan menjadi cara terbaik untuk menghindari cauliflower ear. Petarung dan atlet olahraga kontak dapat menggunakan pelindung telinga ketika berlatih, terutama pada sesi yang melibatkan grappling atau kontak berulang. Pelindung tersebut mengurangi gesekan dan benturan langsung pada daun telinga. Pendinginan dengan kompres dingin setelah trauma juga dapat membantu mengurangi pembengkakan pada cedera tertentu, meskipun tindakan tersebut tidak menggantikan pemeriksaan apabila muncul benjolan atau pembengkakan yang menetap. Bagi petarung MMA, mengenali gejala sejak awal menjadi hal penting. Telinga yang tiba-tiba membengkak setelah latihan, terasa nyeri, lunak, atau mengalami perubahan bentuk sebaiknya tidak dianggap sebagai konsekuensi biasa dari olahraga.

Semakin cepat hematoma mendapatkan evaluasi dan penanganan, semakin besar peluang untuk mencegah terbentuknya deformitas permanen.

Nationwide Children's Hospital dalam pembaruan informasinya pada April 2026 juga menekankan pentingnya penanganan cepat terhadap hematoma telinga untuk mencegah perkembangan jaringan fibrosa yang menyebabkan cauliflower ear. Kajian sistematis terbaru mengenai pencegahan dan penanganan cauliflower ear yang diterbitkan dalam Aesthetic Plastic Surgery pada 2026 menunjukkan bahwa kondisi tersebut tetap menjadi persoalan penting dalam olahraga kontak. Kajian tersebut mengevaluasi 25 penelitian, termasuk penelitian mengenai strategi pencegahan dan berbagai pendekatan terapi. Meski sebagian petarung menganggap telinga yang berubah bentuk sebagai simbol pengalaman bertarung, perspektif medis melihat kondisi tersebut secara berbeda. Deformitas yang sudah terbentuk dapat sulit dikoreksi dan pada kasus tertentu memerlukan tindakan bedah untuk mengangkat jaringan fibrocartilage yang telah terbentuk. Karena itu, cauliflower ear tidak seharusnya dijadikan target atau ukuran keberhasilan seorang petarung. Pengalaman bertanding dapat tercermin dari kemampuan teknik, kebugaran, disiplin, strategi, dan prestasi, bukan dari seberapa rusak bentuk telinganya.

Bagi petarung MMA, telinga yang tetap sehat justru memungkinkan latihan dan pertandingan berlangsung tanpa tambahan masalah kesehatan. Mengenakan pelindung saat latihan, memperhatikan setiap perubahan pada telinga, dan segera mendapatkan penanganan apabila terjadi hematoma merupakan langkah sederhana untuk mencegah cedera berkembang menjadi deformitas permanen. Pada akhirnya, telinga yang berubah bentuk mungkin terlihat seperti "lencana" pengalaman bagi sebagian petarung, tetapi dari perspektif kesehatan, cauliflower ear merupakan konsekuensi trauma yang sebenarnya dapat dicegah. Keberanian di dalam arena tidak harus dibuktikan dengan membiarkan cedera menetap, melainkan dengan menjaga kondisi tubuh agar tetap mampu mendukung karier olahraga dalam jangka panjang.

Referensi Lansiran :

PubMed – Prevention and Surgical Management of Auricular Hematoma and Cauliflower Ear, 8 Januari 2026.

Nationwide Children's Hospital – Cauliflower Ear Prevention and Treatment, 9 April 2026.

Journal of Education and Teaching in Emergency Medicine – Simple Auricular Hematoma ("Cauliflower Ear") Task Trainer, 31 Juli 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....