Eco Bhinneka Ajak Gen Z Lintas Iman “Besuk Sungai” untuk Peduli Lingkungan

  • 31 Agt 2026 10:31 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • Sungai
  • Ekosistem
  • Cinta Lingkungan

RRI.CO.ID, Jember: Eco Bhinneka Muhammadiyah mengajak generasi Z (Gen Z) dari berbagai komunitas dan lintas iman untuk terlibat langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kegiatan “Besuk Sungai”.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian generasi muda terhadap kondisi lingkungan, khususnya pencemaran sungai. Hal itu disampaikan Zahrotul Janah, S.Kom., M.M., dari Eco Bhinneka Muhammadiyah dalam Dialog Jember Menyapa, Senin (31/8/2026).

Menurut Zahrotul, pendekatan kepada Gen Z dalam isu lingkungan tidak cukup hanya melalui imbauan. Generasi muda perlu diajak melihat dan menyentuh langsung persoalan lingkungan yang ada di sekitar mereka. “Kami mengajak anak-anak muda lintas iman ini untuk menyentuh langsung dengan alamnya. Karena kalau dengan Gen Z ini tidak cukup dengan jalan pulang sambil sembarangan, tapi bagaimana kita menyentuh hati Gen Z dengan cara melakukan besuk sungai,” ujar Zahrotul.

Ia menjelaskan, istilah “besuk sungai” digunakan untuk menggambarkan kondisi sungai yang membutuhkan perhatian dan kepedulian masyarakat. “Kalau besuk artinya besuk orang yang sakit, ya, tapi memang ada sungai-sungai kita yang sedang sakit. Kita ajak para Gen Z ini untuk melihat kondisi sungainya,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta menemukan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pembuangan sampah liar hingga sampah yang tersangkut di pepohonan di sekitar sungai.

Zahrotul mengatakan, persoalan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kebersihan sungai membutuhkan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan. “Ternyata ada banyak tempat pembuangan sampah liar, kemudian juga ada sampah-sampah yang nyangkut di pepohonan sekitar sungai. Yang itu sudah kita bersihkan, ternyata datang lagi, datang lagi,” ungkapnya.

Temukan Kandungan Mikroplastik

Selain persoalan sampah, Eco Bhinneka bersama para peserta juga melakukan pengecekan kualitas air sungai. Dari kegiatan tersebut ditemukan adanya kandungan mikroplastik.

Menurut Zahrotul, salah satu sumber mikroplastik yang ditemukan berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk limbah kain yang masuk ke aliran sungai. “Gen Z juga kita ajak untuk mengecek kualitas air sungai yang ternyata ada kandungan mikroplastiknya. Kandungan mikroplastik ini ternyata juga dari rontokan kain-kain yang dibuang di sungai,” jelasnya.

Temuan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama anak-anak muda lintas iman dan berbagai komunitas. Diskusi dilakukan untuk menggali kebiasaan masyarakat yang selama ini dianggap biasa, tetapi sebenarnya dapat memberikan dampak terhadap lingkungan. “Kita gali kebiasaan-kebiasaan apa sih di masyarakat yang kemudian itu kita normalisasi. Tapi sebenarnya itu juga merusak bumi kita,” tutur Zahrotul.

Mandi dan Mencuci di Sungai Jadi Sorotan

Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah aktivitas mandi menggunakan sampo dan sabun langsung di sungai, terutama di kawasan wisata.

Zahrotul mencontohkan kondisi di kawasan wisata Gebang Rao yang memiliki sungai dengan air jernih dan suasana sejuk. Namun, ketika kawasan tersebut ramai dikunjungi wisatawan, aktivitas manusia di sungai berpotensi menimbulkan pencemaran. “Masyarakat dengan, mungkin karena terbiasa juga ya, mandi di sungai, kemudian pakai sampo di situ, pakai sabun, yang itu kita tahu ada bahan-bahan kimia,” ujarnya.

Ia mengimbau wisatawan tetap dapat menikmati sungai tanpa menggunakan produk berbahan kimia langsung di dalam aliran air. “Kalau di situ tempat wisatanya ada kamar mandi, maka gunakan kamar mandi. Jangan mandi di sungainya pakai sampo dan seterusnya. Kalau basah-basahan boleh,” kata Zahrotul.

Hal serupa berlaku untuk aktivitas mencuci pakaian maupun peralatan makan. Menurutnya, fasilitas yang telah disediakan pengelola wisata sebaiknya dimanfaatkan agar limbah tidak langsung masuk ke aliran sungai. “Ketika penyedia wisata itu menyediakan tempat untuk mencuci piring, mencuci apa pun, kemudian ada toilet-toilet, maka kita gunakan itu,” tegasnya.

Menjaga Ekosistem Sungai

Zahrotul menilai, perubahan kebiasaan sederhana di kawasan wisata dapat membantu menjaga kualitas lingkungan dan keberlangsungan ekosistem.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pencemaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas air, tetapi juga dapat mengancam berbagai biota yang hidup di sungai maupun lingkungan sekitarnya. “Sehingga alam yang kita rawat ini bisa tetap menjaga seluruh biota yang ada di sungai maupun di tanah,” pungkasnya.

Melalui kegiatan “Besuk Sungai”, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap generasi muda tidak hanya menjadi penerima informasi tentang lingkungan, tetapi ikut mengalami secara langsung persoalan ekologis dan terdorong mengubah kebiasaan sehari-hari yang berpotensi merusak lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....