Roket China Jadi Magnet Wisata, Antusiasme Warga Saksikan Peluncuran Makin Tinggi
- 31 Agt 2026 09:28 WIB
- Jember
Poin Utama
- Antariksa
- Wisata China
RRI.CO.ID, Hainan: Ambisi China mengembangkan program luar angkasa kini tidak hanya terlihat dari kemajuan teknologi roket dan misi eksplorasi, tetapi juga mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Peluncuran roket bahkan berkembang menjadi daya tarik wisata, ruang ekspresi seni hingga bagian dari budaya populer.
Seperti diberitakan oleh Reuters (19-8-2026), fenomena tersebut terlihat di sekitar Wenchang Space Launch Site, Provinsi Hainan. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan pantai untuk menyaksikan peluncuran roket. Mereka datang dengan membawa telepon seluler dan kamera untuk mengabadikan momen peluncuran yang kini menjadi tontonan publik.
Pada 10 Agustus 2026, ribuan orang berkumpul di Qishui Bay Beach untuk menyaksikan peluncuran roket Long March 7A. Roket sempat melesat dan menerangi langit malam sebelum mengalami ledakan di udara. Kejadian tersebut kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah China.
Meski peluncuran berakhir dengan kegagalan, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Bagi sebagian warga, menyaksikan roket diluncurkan menjadi pengalaman wisata sekaligus simbol perkembangan teknologi negaranya.
Salah seorang wisatawan asal Provinsi Guangdong, Fu Jinhua, bahkan datang bersama burung peliharaannya. Ia mengatakan generasi sebelumnya mungkin tidak pernah membayangkan bisa duduk menikmati angin laut sambil menyaksikan roket negaranya diluncurkan.
Fu memperkirakan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, perjalanan ke luar angkasa bisa menjadi pengalaman yang lebih mudah diakses masyarakat umum, seperti perjalanan menggunakan kereta cepat atau pesawat.
Dari Roket hingga Wisata Mars
Perkembangan program antariksa China juga mulai memengaruhi sektor pariwisata. Di Wulanhada Volcano Geological Park, Mongolia Dalam, formasi batuan vulkanik hitam dimanfaatkan sebagai latar yang menyerupai permukaan Mars.
Wisatawan dapat menyewa kostum astronot untuk berfoto di kawasan tersebut. Bahkan, pedagang setempat menjual es krim berbentuk astronot sebagai bagian dari pengalaman wisata bertema luar angkasa.
Pemilik usaha penyewaan kostum di kawasan itu mengatakan harga sewa pakaian antariksa yang sebelumnya mencapai 80 hingga 100 yuan kini turun hingga sekitar 20 yuan karena semakin banyak pelaku usaha yang menawarkan layanan serupa.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana kemajuan program antariksa China mulai menciptakan aktivitas ekonomi baru di luar sektor teknologi.
Antariksa Masuk ke Dunia Seni
Ketertarikan terhadap luar angkasa juga merambah dunia seni. Di distrik seni Songzhuang, Beijing, terdapat patung raksasa astronot perempuan yang sedang tertidur berjudul Resonance, karya seniman sekaligus penulis fiksi ilmiah Yang Wanting.
Yang mengatakan ketertarikannya terhadap luar angkasa berawal dari pengalaman masa kecil ketika menyaksikan Yang Liwei menjadi warga China pertama yang pergi ke luar angkasa pada 2003.
Kenangan tersebut kemudian memengaruhi karya seninya. Menurut Yang, rasa ingin tahu manusia terhadap ruang angkasa dan apa yang terdapat di alam semesta menjadi salah satu sumber inspirasi dalam berkarya.
Budaya luar angkasa juga terlihat dalam bentuk yang lebih populer dan komersial. Di Shougang Park, Beijing, patung besar karakter Space Molly karya Pop Mart menjadi salah satu objek yang menarik perhatian pengunjung.
Ruang angkasa kini tidak lagi hanya hadir melalui siaran resmi pemerintah atau film fiksi ilmiah. Tema tersebut mulai hadir di pantai, taman wisata, museum, karya seni hingga produk makanan.
Ambisi China Menuju Bulan dan Mars
Perubahan tersebut berjalan seiring dengan semakin pesatnya perkembangan program antariksa China. Negara itu meluncurkan roket pertamanya pada 1960, kemudian mencapai penerbangan berawak pada 2003, melakukan spacewalk pertama pada 2008, dan menyelesaikan pembangunan stasiun luar angkasa pada 2022.
Program eksplorasi Bulan China juga telah mencatat sejumlah pencapaian, termasuk pendaratan pertama di sisi jauh Bulan serta misi pengambilan sampel dari permukaan Bulan.
China menargetkan pendaratan manusia di Bulan sebelum 2030 dan selanjutnya mengembangkan misi berawak menuju Mars.
Dengan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap peluncuran roket dan berkembangnya berbagai aktivitas bertema antariksa, ruang angkasa perlahan berubah dari sekadar proyek teknologi dan sains menjadi pengalaman budaya bersama.
Pariwisata, seni dan bisnis ikut mengambil bagian dalam membentuk imajinasi baru masyarakat China tentang masa depan di luar Bumi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....