Cartridge Konsol NES Jadi Media Perilisan Album Debut Daydream Plus

  • 29 Jul 2026 11:19 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Di tengah tren industri musik yang semakin mengandalkan layanan streaming digital, band emo math-rock asal Kanada, Daydream Plus, memilih cara yang tidak biasa untuk merilis albumnya. Alih-alih hanya menghadirkan format digital, CD, atau piringan hitam, mereka justru meluncurkan versi remix 8-bit dari album debut Second Last Day of Summer dalam bentuk kaset (cartridge) yang hanya dapat dimainkan menggunakan konsol klasik Nintendo Entertainment System (NES).

Ali Shutler dalam NME pada 22 Juli 2026, menjelaskan bahwa rilisan bertajuk Extended Forecast tersebut bukan sekadar album dengan nuansa suara gim retro. Cartridge itu benar-benar berfungsi layaknya gim NES dan hanya dapat dijalankan pada konsol yang pertama kali diperkenalkan sekitar empat dekade lalu.

Gitaris sekaligus motor utama Daydream Plus, Payson Power, mengatakan bahwa keputusan tersebut dilandasi rasa cintanya terhadap media fisik. Menurutnya, memiliki album dalam bentuk nyata merupakan bentuk penghargaan kepada musisi, terutama di era ketika musik semakin mudah dikonsumsi dan dilupakan begitu saja.

“I love owning physical media. It’s a sign of respect to the artist, especially in an age where things are so disposable, “ ujar Power.

Power mengaku tumbuh dengan kebiasaan membeli album secara fisik dan bahkan pernah bercita-cita mengoleksi seluruh gim NES yang pernah dirilis. Band lain yang juga ia jalani, Tomb Mold, bahkan sempat dikenal melalui perilisan kaset edisi terbatas. Baginya, proses menunggu album datang selama berminggu-minggu justru menjadi bagian dari pengalaman menikmati musik.

Selain alasan nostalgia, perilisan cartridge juga menjadi bentuk kritik terhadap arah industri hiburan saat ini. Menurut Power, kepemilikan media digital sebenarnya hanya sebatas lisensi yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Ia juga menyoroti semakin banyaknya gim modern yang dijual dalam kemasan fisik, tetapi hanya berisi kode unduhan tanpa cakram permainan.

Daydream Plus sendiri dibentuk pada 2020 setelah Power ingin mengeksplorasi musik yang lebih tenang dibanding proyek death metal-nya bersama Tomb Mold. Bersama Max Klebanoff dan Kevin Sia, mereka merilis dua EP sebelum akhirnya menghadirkan album penuh Second Last Day of Summer pada 2026.

Album tersebut mengusung perpaduan emo, math-rock, dan instrumental pop dengan progresi akor yang menurut Power sengaja dibuat sedikit "ganjil" sebagai refleksi dari rasa cemas yang sering ia alami. Meski awalnya ingin membuat komposisi yang rumit, ia justru merasa aransemen yang lebih sederhana menghasilkan pengalaman mendengarkan yang lebih hangat dan mudah dinikmati.

Judul album Second Last Day of Summer juga memiliki makna personal. Power mengibaratkan hari terakhir liburan musim panas sebagai simbol kecemasan menjelang kembali ke rutinitas sekolah, perasaan yang menurutnya selalu muncul sejak masa kecil setiap kali akhir pekan atau liburan akan berakhir.

Kecintaannya terhadap gim klasik turut memengaruhi proses kreatif tersebut. Selain terinspirasi oleh band emo seperti Jimmy Eat World dan American Football, Power juga banyak mengambil referensi dari grup chiptune Anamanaguchi dan Disasterpeace, serta soundtrack gim legendaris seperti Final Fantasy VII, EarthBound, dan Sonic Adventure.

Untuk membuat versi 8-bit album itu, Power tidak sekadar menambahkan efek suara retro. Ia bekerja sama dengan ahli perangkat elektronik vintage, Andy Reitano, dan menghabiskan hampir satu tahun mempelajari perangkat lunak FamiTracker. Seluruh instrumen dalam album diprogram ulang agar sesuai dengan lima kanal audio yang dimiliki NES, sehingga benar-benar terdengar seperti musik asli dari konsol tersebut.

Versi cartridge Extended Forecast juga menghadirkan pengalaman interaktif. Saat dijalankan di NES, setiap lagu menampilkan kondisi cuaca pada 30 Agustus 2025, hari yang dianggap sebagai "hari kedua terakhir musim panas" di kota asal Power, Toronto. Tampilan grafis pikselnya pun berubah warna mengikuti perjalanan suasana album dari siang hingga malam.

Power mengungkapkan bahwa proses pengembangannya penuh tantangan karena keterbatasan memori NES. Bahkan, rencananya untuk menampilkan animasi kereta seperti yang ada di sampul album harus dibatalkan karena perangkat keras konsol tersebut tidak mampu menampung data tambahan. Setiap kali satu masalah berhasil diatasi, berbagai kendala teknis baru kembali muncul.

Meski melelahkan, Power mengaku bangga dengan hasil akhirnya. Baginya, Extended Forecast bukan hanya sebuah album, melainkan proyek yang memadukan musik, teknologi retro, dan kecintaannya terhadap media fisik. Di saat banyak musisi berlomba mengikuti perkembangan platform digital, Daydream Plus justru memilih kembali ke konsol berusia 40 tahun sebagai cara menghadirkan pengalaman mendengarkan yang benar-benar berbeda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....