24 FPS Berikan Kesan Sinematik pada Film Bioskop

  • 29 Jul 2026 10:27 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Bagi banyak orang, kualitas video sering dikaitkan dengan jumlah frame per detik (frames per second/FPS) yang semakin tinggi. Namun, di dunia perfilman, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku. Hingga kini, sebagian besar film layar lebar masih menggunakan standar 24 FPS, sebuah format yang telah dipertahankan selama hampir satu abad karena mampu menghadirkan kesan sinematik yang khas.

Artikel SlashGear pada 25 Maret 2024 yang ditulis Dreamchild Obari menjelaskan bahwa setiap elemen dalam film, mulai dari pencahayaan, sudut kamera, tata suara, hingga frame rate, merupakan bagian dari keputusan artistik. Meskipun kamera modern mampu merekam video dengan frame rate yang jauh lebih tinggi, banyak sineas tetap memilih 24 FPS karena menghasilkan gerakan yang terasa lebih lembut dan memiliki motion blur alami yang identik dengan tampilan film di bioskop.

FPS sendiri merupakan singkatan dari frames per second, yaitu jumlah gambar diam yang ditampilkan setiap detik untuk menciptakan ilusi gerakan. Semakin tinggi angka FPS, gerakan yang terlihat umumnya semakin halus dan realistis. Sebaliknya, frame rate yang lebih rendah dapat membuat perpindahan gambar tampak lebih patah-patah apabila berada di bawah ambang tertentu.

Meski demikian, standar tersebut berbeda antara industri gim dan perfilman. Dalam video game, terutama gim aksi, FPS tinggi sangat penting untuk menghasilkan respons visual yang lebih cepat dan mulus. Sementara itu, dunia perfilman justru memanfaatkan frame rate yang lebih rendah dan mengandalkan teknik sinematografi lain agar gambar tetap terlihat halus sekaligus memiliki karakter visual yang khas.

Penggunaan 24 FPS berawal dari perkembangan industri film pada awal abad ke-20. Pada era film bisu, karya-karya seperti film Charlie Chaplin umumnya direkam dengan kecepatan sekitar 16 hingga 18 FPS. Saat diputar, film tersebut diproyeksikan mendekati 24 FPS sehingga menghasilkan gerakan yang tampak lebih cepat dan menjadi ciri khas film-film komedi klasik.

Pada masa itu, penggunaan frame rate rendah juga didorong oleh alasan ekonomi. Semakin tinggi FPS, semakin banyak pula stok film yang dibutuhkan sehingga biaya produksi meningkat. Para pembuat film kemudian menemukan bahwa kisaran 16 hingga 18 FPS sudah cukup untuk menciptakan ilusi gerakan yang meyakinkan bagi penonton tanpa harus mengeluarkan biaya lebih besar.

Perubahan besar terjadi ketika film bersuara mulai diperkenalkan pada akhir 1920-an. Kehadiran audio menuntut adanya standar frame rate yang seragam agar sinkronisasi antara gambar dan suara dapat berjalan dengan baik. Menurut Obari, industri akhirnya menetapkan 24 FPS sebagai titik kompromi yang mampu menjaga kualitas sinkronisasi suara sekaligus tetap efisien dari sisi penggunaan stok film.

Meskipun teknologi kamera telah berkembang pesat, bahkan mampu merekam jutaan hingga triliunan frame per detik untuk kebutuhan penelitian tertentu, standar 24 FPS tetap bertahan di industri perfilman modern. Salah satu alasannya adalah faktor kebiasaan. Selama puluhan tahun, penonton telah terbiasa mengaitkan tampilan 24 FPS dengan pengalaman menonton film di bioskop.

“The simple answer is tradition. We've come to associate the 24 FPS look and its characteristic motion blur with the feel of cinema. While higher FPS could mean smoother visuals, it doesn't look as cinematic as the motion blur and dream-like quality of 24 FPS, “ jelas Obari, (25/03/2026).

Karakteristik motion blur yang muncul pada 24 FPS juga memberikan kesan visual yang lebih lembut dan menyerupai mimpi. Sebaliknya, frame rate tinggi menghasilkan gambar yang sangat tajam dan realistis sehingga sebagian penonton justru merasa tampilannya menyerupai siaran televisi atau video digital, bukan film layar lebar.

Selain faktor estetika, keberadaan standar juga memudahkan pengembangan perangkat pemutar video. Banyak televisi modern menggunakan refresh rate 60 Hz sehingga lebih mudah menampilkan film dengan frame rate yang telah menjadi standar industri dibandingkan format yang jauh lebih tinggi.

Meski demikian, beberapa sutradara pernah bereksperimen menggunakan frame rate di atas 24 FPS. Peter Jackson, misalnya, merekam trilogi The Hobbit menggunakan 48 FPS untuk meningkatkan kualitas efek tiga dimensi, detail lanskap, dan kenyamanan visual. Namun, menurut ulasan yang dikutip Obari dari Forbes, pendekatan tersebut justru membuat film terasa kurang alami bagi sebagian penonton.

Eksperimen serupa dilakukan James Cameron melalui Avatar: The Way of Water, yang menggabungkan adegan 24 FPS dan 48 FPS. Sementara itu, Ang Lee bahkan menggunakan 120 FPS dalam Gemini Man yang dibintangi Will Smith. Walaupun menghasilkan gambar yang sangat halus, banyak kritikus menilai tampilan tersebut menghadirkan efek hyper-reality sehingga film terasa lebih mirip demonstrasi teknologi atau cuplikan video game daripada sebuah karya sinematik.

Hingga kini, belum dapat dipastikan masa teknologi high frame rate akan menjadi standar baru dalam industri film. Namun, sebagian besar sineas masih mempertahankan penggunaan 24 FPS karena dinilai mampu menjaga keseimbangan antara realisme dan ilusi visual. Standar tersebut tidak hanya menjadi warisan sejarah perfilman, tetapi juga telah membentuk cara penonton menikmati pengalaman sinematik selama hampir 100 tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....