Ludwig Göransson Eksplorasi Instrumen Kuno demi Hidupkan The Odyssey

  • 29 Jul 2026 07:27 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Sutradara Christopher Nolan kembali menghadirkan pendekatan berbeda dalam film terbarunya, The Odyssey. Kali ini, keunikan tersebut tidak hanya terlihat dari visual maupun alur cerita, tetapi juga dari musik pengiring yang digarap komposer peraih Oscar, Ludwig Göransson. Dalam proyek ini, Nolan secara khusus meminta Göransson untuk tidak menggunakan orkestra, sebuah keputusan yang membuat proses penciptaan musik film tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Menurut artikel yang ditulis Jazz Tangcay di Variety dikutip RRI,Selasa 28 Juli 2026, The Odyssey menjadi kolaborasi ketiga antara Nolan dan Göransson setelah sebelumnya bekerja sama dalam Tenet dan Oppenheimer. Jika pada proyek-proyek sebelumnya Göransson banyak memadukan instrumen orkestra dengan unsur elektronik, kali ini ia justru harus meninggalkan pendekatan tersebut demi menghadirkan nuansa yang lebih sesuai dengan latar cerita.

Göransson mengungkapkan bahwa Nolan ingin dunia dalam The Odyssey terasa akrab bagi penonton modern, tetapi tidak menyerupai film-film bertema Yunani Kuno yang pernah dibuat sebelumnya. Menurut Nolan, tujuan tersebut dapat dicapai dengan menciptakan musik yang terasa lebih abadi (timeless), bukan sekadar meniru gaya musik klasik yang lazim digunakan dalam film berlatar sejarah.

Bagi Göransson, arahan itu menjadi tantangan besar. Ia mengaku harus keluar dari zona nyaman dan bereksperimen dengan berbagai bunyi yang belum pernah digunakan dalam karya-karyanya sebelumnya. Bahkan, ia sempat mengatakan bahwa penggunaan orkestra tidak sesuai dengan latar waktu cerita karena pada masa tersebut instrumen orkestra modern belum dikenal.

Karena kisah The Odyssey berlatar Zaman Perunggu (Bronze Age), Nolan menyarankan agar unsur perunggu dijadikan tema utama dalam komposisi musiknya. Göransson kemudian menyewa 35 gong perunggu dengan berbagai ukuran dan melakukan berbagai eksperimen suara. Ia tidak hanya memukul gong, tetapi juga memanfaatkan berbagai benda logam di sekitarnya, seperti dinding, pagar, besi bekas, hingga unit pendingin udara untuk menghasilkan karakter bunyi yang unik.

Selain itu, Göransson juga menggunakan instrumen kuno seperti lyre, alat musik petik yang populer di Yunani Kuno, serta aulos, alat musik tiup tradisional yang sering digunakan pada masa tersebut. Kombinasi berbagai instrumen itu menghasilkan warna musik yang berbeda dari karya-karya film epik pada umumnya.

Musik dalam The Odyssey juga diperkaya dengan penggunaan vokal yang menurut Göransson berfungsi memberikan kedalaman emosional pada berbagai adegan. Sementara itu, soundtrack film ini turut menghadirkan lagu orisinal berjudul When I'm Home, hasil kolaborasi James Blake, Travis Scott, Ludwig Göransson, dan Christopher Nolan sendiri.

Film ini merupakan adaptasi dari puisi epik karya Homer yang mengisahkan perjalanan panjang Odysseus setelah Perang Troya. Matt Damon memerankan tokoh utama Odysseus, didampingi Anne Hathaway sebagai Penelope, Tom Holland sebagai Telemachus, Robert Pattinson sebagai Antinous, Zendaya sebagai dewi Athena, serta Charlize Theron sebagai penyihir Circe. Film tersebut juga dibintangi sejumlah aktor ternama lainnya, seperti Lupita Nyong'o, Jon Bernthal, Benny Safdie, John Leguizamo, Himesh Patel, Will Yun Lee, Mia Goth, Jimmy Gonzales, dan Elliot Page.

The Odyssey menjadi film panjang ke-13 yang disutradarai Christopher Nolan. Selain menyutradarai, Nolan juga menulis skenario yang diadaptasi dari puisi klasik karya Homer serta memproduseri film tersebut bersama Emma Thomas melalui rumah produksi Syncopy. Distribusi film dilakukan oleh Universal Pictures.

Selain menghadirkan pendekatan visual yang khas, The Odyssey menunjukkan cara Christopher Nolan dan Ludwig Göransson berupaya menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda melalui eksplorasi bunyi. Dengan meninggalkan orkestra dan memanfaatkan instrumen serta material yang terinspirasi dari Zaman Perunggu, musik dalam film ini diharapkan mampu memperkuat nuansa epik sekaligus memberikan identitas baru bagi kisah klasik yang telah bertahan selama ribuan tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....