Belut Purba Lough Neagh Terancam, Penangkapan Dihentikan Demi Selamatkan Populas

  • 28 Jul 2026 08:13 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • Konservasi Hewan
  • Irlandia
  • Hewan Dilindungi

RRI.CO.ID,IRLANDIA: Salah satu spesies purba yang telah bertahan sejak jutaan tahun lalu kini menghadapi ancaman serius. Belut Eropa (European eel) yang menjadi ikon Danau Lough Neagh di Irlandia Utara terpaksa dilindungi melalui penghentian penangkapan selama dua tahun setelah populasinya terus menurun akibat berbagai tekanan lingkungan.

Seperti dilansir dari BBC Earth (28-7-2026), Lough Neagh selama ini dikenal sebagai penghasil belut berkualitas tinggi. Produk belut dari danau tersebut bahkan menjadi produk pertama di Irlandia Utara yang memperoleh status Protected Geographical Indication (PGI) dari Uni Eropa, sebagai pengakuan atas keunikan asal dan kualitasnya.

Namun, mulai tahun ini tidak akan ada penangkapan belut kuning (yellow eel). Otoritas setempat hanya mengizinkan penangkapan sekitar 25 ton belut perak (silver eel), yakni belut dewasa yang telah siap bermigrasi untuk berkembang biak. Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya memulihkan populasi spesies yang kini berstatus terancam kritis.

Penutupan perikanan ini turut memukul para nelayan yang menggantungkan sebagian besar penghasilannya dari penangkapan belut. Pemerintah Irlandia Utara melalui Department of Agriculture, Environment and Rural Affairs (Daera) tengah menyiapkan skema bantuan keuangan bagi pemegang izin yang terdampak, meski proses persetujuannya masih berlangsung.

Spesies Purba dengan Perjalanan Hidup yang Luar Biasa

Belut Eropa dikenal sebagai salah satu hewan dengan siklus hidup paling misterius di dunia. Para ilmuwan meyakini seluruh belut Eropa lahir di Laut Sargasso, kawasan Samudra Atlantik di sebelah timur Amerika Serikat.

Larva belut kemudian hanyut mengikuti arus laut selama beberapa tahun hingga mencapai perairan tawar di Eropa, termasuk Danau Lough Neagh. Di sana mereka tumbuh menjadi belut kuning selama belasan hingga puluhan tahun sebelum berubah menjadi belut perak dan kembali menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Laut Sargasso untuk berkembang biak.

Profesor Derek Evans dari Agri-Food and Biosciences Institute (AFBI) mengatakan perubahan dari belut kuning menjadi belut perak merupakan proses metamorfosis yang luar biasa. "Warna tubuh mereka berubah, mata menjadi jauh lebih besar, sirip membulat, bahkan saluran pencernaannya menutup hampir seperti kapal selam biologis," jelas Evans.

Perubahan tersebut memungkinkan belut melakukan perjalanan panjang melintasi Samudra Atlantik tanpa makan. Selama migrasi, energi tubuh digunakan untuk mematangkan sel reproduksi hingga akhirnya berkembang biak di Laut Sargasso. Menurut Evans, penelitian terbaru bahkan menunjukkan belut memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi. "Kami kini mengetahui ada semacam kemampuan magnetik pada retina mata mereka yang membantu menemukan jalan kembali ke Laut Sargasso," ujarnya.

Setelah bertelur, seluruh belut dewasa akan mati. Generasi berikutnya kembali muncul dalam bentuk belut transparan berukuran kecil yang kemudian mengulangi siklus kehidupan tersebut.

Populasi Terus Menurun Sejak 1980-an

Penurunan populasi belut Eropa sebenarnya telah diamati sejak awal dekade 1980-an. Menurut Evans, jumlah belut muda yang memasuki perairan tawar Eropa merosot drastis dari sekitar 14–16 juta ekor per tahun menjadi hanya sedikit di atas 200 ribu ekor. "1983 menjadi titik ketika kami pertama kali melihat penurunan itu. Dan ternyata bukan penurunan sementara, melainkan terus berlanjut hingga sekarang," katanya.

Para ilmuwan menilai penyebabnya merupakan kombinasi berbagai aktivitas manusia, mulai dari perubahan iklim, pembangunan pembangkit listrik tenaga air yang menghambat jalur migrasi, pencemaran air, masuknya parasit asing, hingga penangkapan ikan berlebihan. Perdagangan ilegal belut ke luar Eropa juga memperburuk kondisi populasi.

Sejak 2009, berbagai negara Eropa mulai menerapkan rencana pengelolaan belut, larangan ekspor, hingga penghentian penangkapan di sejumlah wilayah demi meningkatkan peluang spesies tersebut untuk berkembang biak.

Nelayan Khawatir Masa Depan Belut

Bagi nelayan Gary McErlain, kebijakan penutupan perikanan menjadi pukulan berat. Sebagai generasi ketujuh keluarganya yang menggantungkan hidup dari menangkap belut di Lough Neagh, ia menilai kerusakan lingkungan menjadi penyebab utama menurunnya populasi.

Ia menyebut pencemaran air yang semakin meningkat, berkurangnya populasi serangga khas Danau Lough Neagh yang menjadi sumber makanan belut, serta ledakan alga yang terjadi berulang sejak 2023 telah memperburuk kondisi danau. "Anda bisa menunjuk banyak faktor seperti kerang zebra, perubahan iklim, atau lainnya. Yang kami lihat dengan jelas adalah serangga khas Lough Neagh terus berkurang sementara polusi terus meningkat," katanya.

McErlain mengaku sedih membayangkan tradisi keluarganya yang telah berlangsung turun-temurun berpotensi berakhir. "Saya merasa beruntung berasal dari keluarga nelayan komersial selama beberapa generasi. Membayangkan tradisi itu mungkin tidak berlanjut di masa depan sungguh menghancurkan," ujarnya.

Meski demikian, Evans tetap optimistis. Menurutnya, belut merupakan spesies yang sangat tangguh karena telah mampu bertahan melewati berbagai perubahan besar di bumi selama jutaan tahun. "Belut telah melewati berbagai zaman es. Ia adalah spesies yang mampu bertahan. Jika kita memberi kesempatan yang tepat, saya yakin mereka akan terus bertahan hidup," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....