Palm Jumeirah, Pulau Buatan Ikonik Dubai yang Dibangun dari Jutaan Ton Batu-Pasir

  • 30 Jun 2026 23:49 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Di tengah perairan Teluk Arab, sekitar lima kilometer dari pesisir Dubai, berdiri salah satu proyek rekayasa paling ambisius yang pernah dikerjakan manusia. Berbentuk menyerupai pohon kurma, Palm Jumeirah kerap dijuluki sebagai "keajaiban dunia kedelapan" oleh pemerintah Dubai. Pulau buatan ini bukan sekadar destinasi wisata mewah, tetapi juga simbol kemajuan teknologi konstruksi dan reklamasi modern.

Menurut ulasan Rory Batho yang dimuat Travelzoo pada 25 Maret 2021, pengembang milik pemerintah Dubai, Nakheel, membutuhkan waktu enam tahun untuk mewujudkan proyek senilai sekitar 12 miliar dolar AS tersebut. Berbeda dengan banyak proyek reklamasi yang menggunakan beton sebagai fondasi utama, Palm Jumeirah dibangun hampir sepenuhnya dari material alami.

Sekitar 7 juta ton batu didatangkan dari Pegunungan Hajar yang berada di wilayah Uni Emirat Arab dan Oman. Sementara itu, 120 juta meter kubik pasir dikeruk dari dasar laut Teluk Arab untuk membentuk pulau yang menyerupai pohon kurma lengkap dengan batang, 17 pelepah, dan sabit pelindung di bagian luar. Jumlah batu dan pasir yang digunakan begitu besar hingga diperkirakan cukup untuk membangun tembok selebar dua meter yang dapat mengelilingi bumi sebanyak tiga kali.

Bagian pertama yang dibangun adalah tanggul berbentuk bulan sabit sepanjang 11 kilometer yang mengelilingi pulau. Tanggul ini berfungsi melindungi Palm Jumeirah dari arus laut yang kuat serta angin musiman shamal yang bertiup dari wilayah Irak menuju Teluk Arab. Untuk menjaga kestabilannya, dasar tanggul dilapisi membran geotekstil agar pasir tidak hanyut. Di atasnya disusun beberapa lapisan batu, mulai dari batu seberat satu ton hingga batu besar dengan berat mencapai enam ton.

Demi menjaga kualitas air di dalam kawasan pulau, dua bukaan selebar sekitar 100 meter dibuat pada tanggul agar sirkulasi air laut tetap lancar dan tidak menjadi tergenang. Kini, di atas tanggul tersebut terdapat jalur pejalan kaki sepanjang enam meter yang menjadi salah satu lokasi favorit menikmati matahari terbenam di Dubai.

Mewujudkan bentuk pohon kurma berukuran raksasa tentu bukan pekerjaan mudah. Para insinyur memanfaatkan teknologi GPS berpresisi tinggi untuk mengarahkan kapal pengeruk pasir agar menempatkan material tepat sesuai desain. Setelah itu, teknologi vibro compaction digunakan untuk memadatkan lahan reklamasi seluas sekitar 560 hektare sehingga cukup kuat menopang berbagai bangunan. Luas keseluruhan Palm Jumeirah setara dengan sekitar 600 lapangan sepak bola, atau hampir empat kali lebih besar dibandingkan Hyde Park di London.

Salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan Palm Jumeirah adalah menghubungkan batang utama pulau dengan bagian sabit pelindung. Solusinya adalah membangun sebuah terowongan bawah laut enam lajur yang berada sekitar 25 meter di bawah permukaan laut. Terowongan tersebut dibangun menggunakan sekitar 200.000 meter kubik beton bertulang, 30.000 ton baja, serta 110.000 ton batu.

Agar pembangunan dapat dilakukan dalam kondisi kering, kontraktor terlebih dahulu membuat dua bendungan sementara sepanjang 1,2 kilometer. Sebanyak 5,5 juta meter kubik air laut dipompa keluar hanya dalam waktu 45 hari. Sebelum area dikeringkan, sekitar 2.000 ikan dipindahkan ke lokasi lain agar tidak terjebak selama proses konstruksi berlangsung.

Pembangunan Palm Jumeirah dimulai pada 2001, dan enam tahun kemudian penghuni pertama mulai menempati kawasan tersebut. Saat ini, sebanyak 17 pelepah pulau dipenuhi sekitar 1.500 vila mewah yang menghadap langsung ke pantai. Sementara itu, batang utama pulau menampung sekitar 6.000 apartemen serta kawasan komersial.

Di bagian sabit pelindung berdiri sejumlah hotel kelas dunia seperti Atlantis The Palm dan Waldorf Astoria Dubai Palm Jumeirah, sementara berbagai jaringan hotel internasional lain juga hadir di kawasan utama Palm Jumeirah. Jauh sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sempat merencanakan pembangunan Trump Tower setinggi 60 lantai di Palm Jumeirah. Gedung tersebut digadang-gadang menjadi ikon utama kawasan. Namun, proyek itu akhirnya dibatalkan setelah krisis keuangan global pada 2008. Lahan yang semula disiapkan kemudian diubah menjadi taman kota bernama Al Ittihad Park.

Hingga kini, Atlantis The Palm tetap menjadi ikon utama pulau tersebut. Resor ini memiliki lebih dari 1.500 kamar, taman air berskala besar, serta Royal Bridge Suite, salah satu kamar hotel paling mewah di Dubai yang tarifnya pernah mencapai sekitar 25.000 dolar AS per malam.

Kesuksesan Palm Jumeirah sebenarnya direncanakan akan diikuti oleh dua pulau buatan lain, yaitu Palm Jebel Ali dan Palm Deira. Pembangunan Palm Jebel Ali dimulai pada 2002 dan reklamasi lahannya telah selesai. Namun, krisis ekonomi global membuat pengembang menghentikan proyek tersebut tanpa kepastian kapan akan dilanjutkan.

Sementara itu, Palm Deira yang semula dirancang delapan kali lebih besar daripada Palm Jumeirah akhirnya diubah menjadi proyek yang lebih sederhana bernama Deira Islands, yang direncanakan berisi kawasan hunian, hotel, pusat perbelanjaan, dan marina. Lebih dari dua dekade setelah pembangunannya dimulai, Palm Jumeirah tetap menjadi salah satu simbol paling dikenal dari Dubai. Pulau buatan ini tidak hanya menunjukkan kemewahan kota tersebut, tetapi juga menjadi bukti bagaimana perpaduan teknologi, rekayasa sipil, dan visi pembangunan mampu mengubah hamparan laut menjadi kawasan hunian dan wisata bertaraf internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....