Great Green Wall, Upaya Afrika Menekan Wilayah Gurun yang Semakin Melebar
- 30 Jun 2026 22:47 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Di sebuah lembah kering dekat Desa Kourtimale, Djibouti selatan, hamparan tanah tandus menjadi saksi bisu sebuah mimpi besar yang belum terwujud. Di balik pagar kawat yang mulai rapuh, hanya tersisa pipa-pipa irigasi yang rusak, tangki air yang nyaris tak terpakai, dan lahan yang kembali menjadi gurun. Padahal, kawasan seluas sekitar satu hektare itu pernah diproyeksikan menjadi bagian dari Great Green Wall atau Tembok Hijau Besar Afrika, salah satu proyek restorasi lingkungan terbesar di dunia.
Dalam laporan Julie Bourdin dkk yang diterbitkan NPR pada 11 April 2026, proyek ini digambarkan sebagai simbol harapan sekaligus pelajaran berharga tentang tantangan pembangunan lingkungan berskala raksasa. Great Green Wall diluncurkan oleh Uni Afrika pada 2007 dengan tujuan mengatasi penggurunan (desertifikasi) di kawasan Sahel, wilayah kering yang membentang tepat di selatan Gurun Sahara.
Konsep awalnya sangat ambisius yaitu menciptakan sabuk vegetasi sepanjang sekitar 7.000 kilometer dan selebar 16 kilometer, membentang dari Senegal di Afrika Barat hingga Djibouti di Afrika Timur. Lebih dari sekadar menanam pohon, proyek ini menargetkan pemulihan sekitar 100 juta hektare lahan terdegradasi, penyimpanan 250 juta ton karbon, penciptaan 10 juta lapangan kerja hijau, serta pengurangan kemiskinan, kerawanan pangan, dan konflik yang dipicu perebutan sumber daya alam.
Untuk mewujudkannya, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan dibutuhkan dana sekitar 33 miliar dolar Amerika Serikat. Berbagai lembaga internasional seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Afrika, Uni Eropa, Green Climate Fund, hingga Global Environment Facility (GEF) kemudian menggelontorkan dana miliaran dolar.
Salah satu penerima manfaat proyek adalah Abdi Guelleh, seorang penggembala asal Djibouti. Pada 2014, pemerintah membangun sumur bor, bendungan kecil, pompa tenaga surya, serta sistem irigasi senilai sekitar 300.000 dolar AS di desanya. Lahan yang sebelumnya gersang berubah menjadi kebun produktif yang menghasilkan tomat, kacang-kacangan, dan buah-buahan.
Pada 2014, pemerintah membangun sumur bor, bendungan kecil, pompa tenaga surya, serta sistem irigasi senilai sekitar 300.000 dolar AS di desanya. Lahan yang sebelumnya gersang berubah menjadi kebun produktif yang menghasilkan tomat, kacang-kacangan, dan buah-buahan.
"Saya bisa memberi makan keluarga saya. Kami memiliki makanan dan rasa aman," kenang Guelleh dalam wawancaranya yang dikutip NPR.
Namun keberhasilan itu hanya berlangsung beberapa tahun. Kekeringan berkepanjangan menyebabkan bendungan retak, pompa tenaga surya rusak, sementara bertambahnya jumlah penduduk membuat cadangan air tanah semakin menipis.
Tanpa anggaran untuk memperbaiki infrastruktur, pasokan air akhirnya berhenti. Tanaman mengering dan mati, sedangkan lahan yang semula hijau perlahan kembali menjadi gurun. Kini, truk tangki pemerintah hanya datang seminggu sekali untuk mengisi bak air yang lebih banyak dimanfaatkan ternak daripada untuk mengairi lahan pertanian.
Kisah Guelleh bukanlah satu-satunya. Menurut Bourdin dkk, pendekatan awal Great Green Wall yang berfokus pada penanaman pohon dalam jumlah besar ternyata menghadapi banyak kendala. Banyak bibit mati karena jenis tanaman yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan, minimnya curah hujan, serta kurangnya keterlibatan masyarakat setempat dalam merawat tanaman.
Agronom Dennis Garrity, mantan Direktur World Agroforestry Center, bahkan menyebut konsep awal tersebut sebagai ide yang "secara ilmiah bermasalah". Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penanaman pohon berskala besar di wilayah bercurah hujan rendah sering kali berakhir dengan kegagalan.
Karena itu, konsep Great Green Wall kemudian berkembang. Fokusnya tidak lagi hanya menanam pohon, tetapi juga memulihkan lahan terdegradasi melalui pertanian berkelanjutan, konservasi tanah, pengelolaan air, dan pemberdayaan masyarakat.
Selama bertahun-tahun, Senegal dianggap sebagai contoh keberhasilan Great Green Wall. Pemerintah negara itu mengklaim telah memulihkan sekitar 850.000 hektare lahan sejak proyek dimulai. Namun hasil penelitian terbaru justru memberikan gambaran yang berbeda.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Land Use Policy pada Oktober 2025 menemukan bahwa dari 36 lokasi proyek yang diteliti di Senegal, hanya satu lokasi yang menunjukkan tingkat penghijauan lebih baik dibandingkan pertumbuhan vegetasi alami akibat curah hujan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa manfaat ekologis proyek tersebut sangat kecil, sedangkan dampak sosialnya umumnya hanya berupa pekerjaan jangka pendek saat penanaman bibit berlangsung. Salah satu persoalan terbesar Great Green Wall adalah rumitnya alur pendanaan.
Menurut laporan Bourdin dkk, pada 2021 para donor internasional kembali menjanjikan tambahan dana sebesar 19 miliar dolar AS. Green Climate Fund sendiri telah mengalokasikan 14,4 miliar dolar AS selama satu dekade terakhir, sementara Uni Eropa mengucurkan lebih dari 1,78 miliar dolar AS hanya dalam kurun 2021–2023. Namun hingga 2023, sekitar 80 persen dana yang dijanjikan baru masuk tahap perencanaan, sedangkan dana yang benar-benar dicairkan hanya sekitar 13 persen. Banyak lembaga nasional yang bertanggung jawab mengelola proyek mengaku hanya menerima sebagian kecil dari dana yang sebenarnya telah dialokasikan.
Koordinasi yang melibatkan ratusan organisasi internasional, lembaga donor, kementerian, dan pemerintah daerah membuat pelacakan penggunaan dana menjadi sangat sulit. Selain masalah teknis, Great Green Wall juga menghadapi tantangan politik. Wilayah Sahel dikenal sebagai kawasan yang kerap mengalami kudeta, konflik bersenjata, hingga ancaman kelompok ekstremis. Situasi tersebut membuat banyak program lingkungan kehilangan prioritas.
Di Djibouti sendiri, Kepala Departemen Great Green Wall, Abdoulfatah Arab, mengakui bahwa negaranya baru menerima sekitar 30 juta dolar AS dalam sepuluh tahun terakhir, kurang dari 10 persen dari kebutuhan yang diperkirakan sebelumnya. Keterbatasan dana membuat pemerintah tidak mampu memperbaiki infrastruktur yang rusak, termasuk sistem irigasi di Kourtimale.
Meski banyak proyek gagal bertahan, bukan berarti seluruh Great Green Wall tidak menghasilkan manfaat. Di Provinsi Kanem, Chad, misalnya, organisasi SOS Sahel membantu masyarakat membangun penahan pasir, memasang pompa air tenaga surya, serta menyediakan pelatihan dan bibit tanaman.
Kini lebih dari 300 petani memanfaatkan oasis yang ditumbuhi pohon kurma, pisang, sorgum, tomat, bawang, dan singkong. Bahkan sejumlah pemuda yang sebelumnya meninggalkan desa memilih kembali karena melihat peluang ekonomi di kampung halaman.
Meski demikian, keberhasilan tersebut tetap rapuh. Jika pompa air rusak sementara pendanaan tidak tersedia, masyarakat kembali harus berjuang sendiri mempertahankan sumber air mereka.
Badan Pan-Afrika Great Green Wall menegaskan bahwa berbagai hambatan yang terjadi bukan berarti proyek ini gagal total. Menurut mereka, tantangan tersebut mencerminkan kompleksitas proyek lintas negara pertama dengan skala sebesar ini.
Sementara itu, Abdi Guelleh masih berharap suatu hari pemerintah dapat memperbaiki pompa air yang rusak sehingga lahannya kembali produktif. Bagi dirinya, Great Green Wall bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan harapan untuk memiliki masa depan yang lebih pasti di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Namun hingga hari itu tiba, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu sambil memandang lahan yang dulu pernah dipenuhi tanaman, tetapi kini kembali ditelan pasir gurun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....