TONTO, Synthesizer Raksasa yang Wujudkan Imajinasi Stevie Wonder

  • 30 Jun 2026 10:55 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Pada awal dekade 1970-an, Stevie Wonder berada di titik penting dalam hidup dan kariernya. Tepat saat menginjak usia 21 tahun, penyanyi sekaligus musisi asal Amerika Serikat itu menginginkan kebebasan untuk menciptakan musik sesuai dengan yang selama ini ia dengar di dalam kepalanya. Keinginan tersebut membawanya bertemu dengan sebuah synthesizer raksasa bernama TONTO, sebuah pertemuan yang kemudian mengubah arah musik soul modern.

Dilansir dari artikel Jamie Atkins yang dimuat classical-music.com pada 27 Maret 2026, kisah ini bermula dari Malcolm Cecil, seorang teknisi audio di Media Sound Studio, New York. Pada suatu akhir pekan, Cecil dikejutkan oleh kedatangan seorang tamu tak terduga. Bassis Ronnie Blanco memperkenalkannya kepada Stevie Wonder yang datang hanya untuk melihat sebuah synthesizer unik yang pernah digunakan dalam album Zero Time karya Tonto's Expanding Head Band.

Stevie membawa album tersebut sambil menanyakan kepada Cecil kebenaran seluruh musik di dalamnya dibuat menggunakan satu instrumen keyboard. Rasa penasaran itulah yang menjadi awal dari kolaborasi bersejarah.

Instrumen yang ingin dilihat Stevie bukanlah synthesizer biasa. TONTO, singkatan dari The Original New Timbral Orchestra, merupakan synthesizer analog polifonik terbesar di dunia saat itu. Instrumen setinggi hampir dua meter tersebut dikembangkan sejak 1969 oleh Malcolm Cecil dan Robert Margouleff dengan menggabungkan berbagai modul eksperimental sehingga mampu menghasilkan suara yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Lewat TONTO, Cecil dan Margouleff merekam album Zero Time, sebuah karya musik elektronik progresif yang sepenuhnya diciptakan menggunakan synthesizer. Walaupun album tersebut gagal secara komersial, salinannya berhasil sampai ke tangan sejumlah musisi, termasuk Stevie Wonder.

Saat mendengar Zero Time pada tahun 1971, Stevie memang sedang mengalami masa penuh gejolak. Setelah bertahun-tahun berada di bawah kontrak Motown sejak usia remaja, ia mulai merasa tidak puas dengan sistem kerja perusahaan rekaman tersebut. Royalti yang diterima dinilai tidak sebanding dengan kesuksesan lagunya, sementara kebebasan berkarya juga sangat terbatas.

Ketika kontraknya berakhir tepat saat ia berusia 21 tahun, Stevie memutuskan untuk memperjuangkan haknya. Ia bahkan sempat membatalkan seluruh kontraknya dengan Motown sebelum akhirnya bernegosiasi kembali untuk memperoleh kesepakatan yang jauh lebih menguntungkan, termasuk royalti yang lebih besar dan kendali artistik penuh atas musiknya.

Di tengah proses tersebut, Stevie menghabiskan akhir pekan bersama Malcolm Cecil dan Robert Margouleff di Media Sound Studio. Awalnya ia hanya ingin mencoba TONTO. Namun setelah mengenal cara kerja instrumen itu, sesi eksplorasi berubah menjadi proses kreatif yang luar biasa.

Karena synthesizer generasi awal hanya mampu memainkan satu nada dalam satu waktu, Stevie sempat bertanya, "Apa yang salah dengan keyboard ini?" Setelah memahami cara kerjanya, ia langsung beradaptasi dan mulai mengeksplorasi berbagai kemungkinan suara baru.

Cecil yang menyadari keajaiban sedang terjadi segera menyalakan mesin perekam. Selama satu akhir pekan penuh, mereka merekam sekitar 17 lagu. Bahkan setelah Robert Margouleff dipanggil kembali ke studio, proses kreatif itu terus berlanjut hingga menghasilkan ratusan jam rekaman.

Menurut Malcolm Cecil, mereka sengaja membiarkan tape recorder terus menyala karena tidak pernah tahu kapan Stevie akan menemukan ide musik berikutnya. Banyak lagu lahir secara spontan dari sesi improvisasi tersebut.

Bagi Stevie Wonder, pengalaman itu sangat berbeda dibandingkan proses rekaman di Motown. Selama bertahun-tahun ia harus menyerahkan lagunya kepada arranger, kemudian datang kembali hanya untuk merekam vokal setelah seluruh musik selesai dikerjakan orang lain. Kini, melalui TONTO, ia akhirnya bisa menciptakan sendiri suara yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya.

Tak lama kemudian, Malcolm Cecil dan Robert Margouleff dipercaya menjadi mitra kreatif Stevie Wonder. Atas rekomendasi mereka pula, Stevie menunjuk pengacara Mike Vigoda untuk merundingkan kontrak baru dengan Motown.

Hasilnya sangat bersejarah. Pada Juli 1971, Stevie Wonder menandatangani kontrak baru yang disebut sebagai kesepakatan paling menguntungkan sepanjang sejarah Motown saat itu. Royalti meningkat menjadi 14 persen, ia menerima uang muka lebih dari 900 ribu dolar AS, serta memperoleh kebebasan artistik yang selama ini diimpikannya.

Kebebasan tersebut melahirkan rangkaian album yang kini dianggap sebagai mahakarya musik populer dunia. Dimulai dari Music of My Mind (1972), disusul Talking Book (1972), Innervisions (1973), hingga Fulfillingness' First Finale (1974), Stevie Wonder menghadirkan warna baru dalam musik soul dengan memadukan funk, synthesizer, lirik yang lebih dewasa, hingga tema-tema sosial, politik, dan spiritual.

Album-album tersebut bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga menghasilkan jutaan penjualan dan belasan nominasi Grammy Awards. Pengaruhnya masih terasa hingga sekarang dalam perkembangan musik R&B, soul, pop, maupun elektronik modern.

Semua perubahan besar itu ternyata berawal dari sebuah kunjungan sederhana seorang musisi muda yang penasaran ingin melihat sebuah synthesizer raksasa. Pertemuan antara Stevie Wonder, Malcolm Cecil, Robert Margouleff, dan TONTO menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah musik modern, membuka jalan bagi lahirnya era baru kreativitas yang mengubah wajah musik soul selamanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....