Peran Central Park bagi New York

  • 29 Mei 2026 06:28 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Di tengah deretan gedung pencakar langit dan padatnya kawasan Manhattan, New York City, Amerika Serikat, berdiri sebuah ruang hijau legendaris yang dikenal hampir di seluruh dunia, yakni Central Park. Taman seluas ratusan hektare itu bukan hanya menjadi ikon kota New York, tetapi juga berfungsi sebagai “paru-paru hijau” bagi jutaan warga dan wisatawan yang datang setiap tahunnya.

Dilansir dari ulasan Juliane von Hagen yang diterbitkan Topos Magazine pada 10 Oktober 2021, keberadaan Central Park sebenarnya tidak termasuk dalam Commissioners Plan tahun 1811, yaitu rancangan tata kota Manhattan yang membentuk pola jalan berbentuk grid atau kotak-kotak yang masih digunakan hingga sekarang. Pada awalnya, rencana tersebut hanya menyediakan beberapa ruang hijau kecil tanpa adanya taman besar di pusat kota.

Namun seiring berkembang pesatnya New York pada abad ke-19, masyarakat mulai menginginkan sebuah taman luas yang dapat menjadi tempat beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Dari kebutuhan itulah lahir gagasan pembangunan Central Park pada 1858.

Von Hagen menjelaskan, sebelum Central Park dibangun, wilayah tersebut masih berupa area rawa, bukit berbatu, lahan pertanian kecil, serta beberapa bangunan terpencil di bagian utara Manhattan yang saat itu belum menjadi pusat kota. Di kawasan itu juga terdapat permukiman kecil bernama Seneca Village yang akhirnya dibongkar pada 1857 untuk memberi ruang bagi pembangunan taman.

Desain Central Park kemudian dipercayakan kepada Frederick Law Olmsted dan Calvert Vaux setelah memenangkan kompetisi desain taman pada 1857. Keduanya menghadirkan konsep “Greensward Plan”, sebuah rancangan taman yang terinspirasi dari lanskap pedesaan Inggris dengan hamparan rumput luas, area hutan alami, danau, serta jalur air berkelok.

Meski tampak seperti alam liar yang alami, seluruh elemen taman sebenarnya dirancang secara detail melalui rekayasa lanskap yang kompleks. Luas Central Park mencapai sekitar 349 hektare dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti lapangan olahraga, taman bunga, arena seluncur es, kebun binatang, teater, hingga area konser.

Dalam artikel von Hagen di Topos Magazine disebutkan bahwa proposal pembangunan taman kala itu memiliki anggaran maksimal sebesar 1,5 juta dolar AS. Selain itu, rancangan taman diwajibkan memiliki area parade, jalan utama, lapangan permainan, taman musim dingin, air mancur besar, dan beberapa jalan yang melintasi taman.

Kini, lebih dari 150 tahun sejak pertama kali dibangun, Central Park tetap menjadi ruang publik favorit warga New York maupun wisatawan dunia. Taman ini dikunjungi sekitar 42 juta orang setiap tahun dan menjadi salah satu taman kota paling ramai di Amerika Serikat.

Selain fungsi rekreasi, Central Park juga memiliki peran ekologis yang sangat penting. Dengan lebih dari 18 ribu pohon, taman ini membantu menurunkan suhu udara sekaligus menyaring polusi di kawasan Manhattan yang sangat padat bangunan. Central Park juga menjadi habitat berbagai satwa dan tempat singgah lebih dari 200 spesies burung migran yang melintasi Samudra Atlantik.

Meski begitu, perjalanan Central Park tidak selalu berjalan mulus. Menurut Topos Magazine, taman ini sempat mengalami masa-masa buruk akibat pengelolaan yang kurang baik, tekanan pembangunan kota, hingga krisis ekonomi yang membuat kondisinya terbengkalai.

Kepedulian warga New York akhirnya melahirkan organisasi bernama Central Park Conservancy pada dekade 1960-an. Organisasi tersebut hingga kini bekerja sama dengan pemerintah kota untuk merawat dan melindungi taman agar tetap sesuai dengan fungsi awalnya.

Melalui donasi swasta, Central Park Conservancy mampu menginvestasikan hampir 75 juta dolar AS setiap tahun untuk pemeliharaan taman. Dukungan itu membuat Central Park tetap bertahan sebagai salah satu ruang hijau kota paling terkenal dan paling dicintai di dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....