Twin Films, Fenomena Film yang Punya Kesan Mirip
- 26 Mei 2026 23:21 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Di industri perfilman Hollywood, tidak jarang muncul dua film berbeda dengan tema, cerita, bahkan waktu rilis yang hampir bersamaan. Fenomena ini dikenal sebagai “twin films”, yakni dua film yang memiliki premis serupa dan saling berdekatan dalam jadwal penayangan. Meski terlihat seperti kebetulan aneh, fenomena tersebut ternyata sudah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian unik dalam sejarah perfilman dunia.
Dilansir dari ulasan Steven McIntosh yang dimuat di BBC pada 2 April 2018, salah satu contoh kasus terjadi pada kisah Donald Crowhurst, pelaut amatir asal Inggris yang menghilang misterius saat mengikuti lomba keliling dunia pada 1968. Cerita tersebut diangkat menjadi dua film berbeda oleh dua sutradara tak sama, yakni The Mercy karya James Marsh yang dibintangi Colin Firth, serta Crowhurst karya Simon Rumley. Kedua film sama-sama tertarik pada kisah tragis Crowhurst yang mencoba memalsukan catatan navigasi sebelum akhirnya menghilang di tengah laut.
Produser Crowhurst, Mike Riley, menyebut situasi tersebut memang terasa unik karena dua film berbeda diproduksi dalam waktu hampir bersamaan dengan topik yang identik. Namun menurut editor senior IMDb, Keith Simanton, fenomena twin films sebenarnya cukup sering terjadi di Hollywood.
Salah satu penyebab utamanya adalah kemunculan ide yang serupa secara bersamaan. Simanton menjelaskan bahwa banyak studio atau penulis skenario bisa saja memiliki gagasan yang mirip tanpa saling mengetahui. Dalam beberapa kasus, tren tertentu atau isu sejarah yang sedang populer membuat banyak rumah produksi tertarik mengangkat tema yang sama dalam waktu berdekatan.
Contohnya terjadi pada 2017 ketika dua film bertema Perang Dunia II muncul hampir bersamaan, yaitu Dunkirk karya Christopher Nolan dan Darkest Hour yang mengangkat kisah Winston Churchill. Meski berbeda pendekatan, keduanya sama-sama berfokus pada peristiwa Dunkirk yang lama tidak diangkat ke layar lebar.
Selain faktor kebetulan, Hollywood juga mengenal strategi “first to market”, yakni upaya studio untuk lebih cepat merilis film dengan tema serupa sebelum kompetitor mendominasi pasar. Ketika satu studio mengetahui ada proyek besar bertema tertentu, studio lain sering kali mencoba memanfaatkan tren yang sama agar tidak tertinggal.
Fenomena ini terlihat jelas dalam deretan film bertema aksi dan bencana pada 1990-an hingga awal 2000-an. Pada 1998 misalnya, dua film tentang asteroid yang mengancam bumi dirilis hanya selang dua bulan, yaitu Deep Impact dan Armageddon. Deep Impact dibintangi Robert Duvall dan Morgan Freeman, sedangkan Armageddon menghadirkan Bruce Willis dan Ben Affleck. Keduanya sukses besar di box office, tetapi Armageddon akhirnya menjadi yang paling populer dengan pendapatan lebih dari 553 juta dolar AS.
Tahun sebelumnya, penonton juga disuguhi dua film bencana gunung meletus yaitu Dante’s Peak dan Volcano. Dante’s Peak dibintangi Pierce Brosnan, sementara Volcano menghadirkan Tommy Lee Jones. Kedua film sama-sama menampilkan kepanikan kota akibat letusan vulkanik dan dirilis hanya berselang beberapa bulan.
Fenomena twin films juga terjadi di genre komedi romantis. Pada 2011, Hollywood merilis No Strings Attached yang dibintangi Ashton Kutcher dan Natalie Portman, lalu disusul Friends With Benefits dengan Justin Timberlake dan Mila Kunis. Kedua film memiliki premis nyaris identik tentang dua sahabat yang mencoba menjalani hubungan tanpa komitmen cinta. Menariknya, pendapatan kedua film tersebut hampir sama, masing-masing sekitar 149 juta dolar AS.
Di dunia animasi, persaingan twin films bahkan pernah memicu konflik besar antarstudio. Pada 1998, DreamWorks merilis Antz sementara Pixar menghadirkan A Bug’s Life hanya selang satu bulan. Kedua film sama-sama mengangkat kehidupan serangga dengan animasi komputer. Menurut BBC, persaingan tersebut memanas karena Pixar menuduh CEO DreamWorks Jeffrey Katzenberg mencuri ide cerita mereka, tuduhan yang dibantah keras oleh Katzenberg. Meski Antz sukses, A Bug’s Life akhirnya meraih pendapatan box office lebih dari dua kali lipat.
Kasus serupa juga terjadi pada film biografi penulis Truman Capote. Pada 2006, dua film berbeda dirilis hampir bersamaan, yakni Capote dan Infamous. Keduanya sama-sama mengangkat periode kehidupan Capote saat meneliti kasus pembunuhan keluarga di Kansas bersama Harper Lee. Film Capote yang dibintangi Philip Seymour Hoffman jauh lebih sukses dibanding Infamous yang dibintangi Toby Jones.
Fenomena twin films menunjukkan bahwa Hollywood sering bergerak mengikuti tren, momentum, dan insting pasar secara bersamaan. Meski beberapa film dianggap saling meniru, banyak juga yang justru berkembang menjadi karya berbeda dengan pendekatan unik masing-masing.
Menariknya, menjadi film yang rilis terakhir tidak selalu berarti kalah. Keith Simanton mencontohkan film Big yang dibintangi Tom Hanks pada akhir 1980-an. Sebelum Big tayang, sudah ada tiga film lain dengan konsep pertukaran usia yang serupa. Namun justru Big yang menjadi hit terbesar dan menghasilkan lebih dari 100 juta dolar AS di box office.
Fenomena twin films akhirnya menjadi bukti bahwa di Hollywood, ide yang sama bisa lahir di waktu bersamaan, tetapi hasil akhirnya tetap ditentukan oleh kualitas cerita, eksekusi, dan dampak dari film tersebut berhasil meninggalkan kesan di hati penonton.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....