Boy Pablo : Pionir Indie Pop dari Norwegia

  • 13 Mei 2026 11:15 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember : Boy Pablo bukanlah sekadar nama sebuah band, melainkan proyek musik indie pop yang digawangi oleh musisi muda berbakat, Nicolas Pablo Rivera Muñoz. Lahir pada 29 November 1998 di Bergen, Norwegia, dari orang tua asal Chili, Nicolas berhasil menggabungkan estetika musik retro dengan nuansa modern yang segar.

Karier Nicolas meroket secara tidak sengaja pada tahun 2017. Saat itu, video musik untuk lagunya yang berjudul "Everytime" menjadi viral di YouTube karena algoritma yang merekomendasikannya kepada jutaan orang di seluruh dunia. Video yang dibuat dengan biaya rendah namun penuh karakter tersebut menampilkan Nicolas dan teman-temannya bermain musik di tepi pantai dengan gaya yang santai dan apa adanya.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa musisi independen bisa meraih audiens global tanpa dukungan label besar, asalkan memiliki karya yang autentik dan dekat dengan kehidupan pendengarnya. Sejak kemunculannya, Boy Pablo telah mencatatkan berbagai pencapaian prestisius yang mengukuhkan posisinya di skena musik internasional seperti berikut ini :

  • Rilisan Ikonik: Merilis EP debut Roy Pablo (2017) dan Soy Pablo (2018) yang mendapat pujian kritis karena melodi gitarnya yang khas (jangly guitar) dan lirik yang melankolis namun tetap ceria.

  • Album Studio Pertama: Merilis album penuh bertajuk Wachito Rico pada tahun 2020, yang menunjukkan eksplorasi musikal lebih luas dengan elemen Latin dan pop klasik.

  • Tur Dunia: Melakukan tur yang tiketnya habis terjual (sold-out) di berbagai benua, termasuk Amerika Utara, Eropa, dan Asia (termasuk beberapa kali tampil di Indonesia).

  • Penghargaan: Memenangkan Spellemannprisen (Grammy-nya Norwegia) dalam kategori "Breakthrough of the Year" pada tahun 2018.

Musik Boy Pablo sering dikategorikan sebagai jangle pop atau dream pop. Ia sangat dipengaruhi oleh band-band seperti The Beatles, Mac DeMarco, dan Mild High Club. Kemampuannya menulis lagu tentang kegelisahan remaja, cinta yang tak berbalas, hingga rasa kesepian dengan irama yang catchy menjadikannya ikon bagi generasi Z yang menyukai nuansa nostalgia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....