Pengalaman Menonton Film Ala IMAX
- 29 Apr 2026 14:25 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Di tengah berkembangnya teknologi perfilman, nama IMAX kini menjadi salah satu format tontonan yang paling dikenal penonton di seluruh dunia. Banyak film blockbuster dipromosikan dalam format IMAX karena menawarkan pengalaman menonton yang lebih imersif, mulai dari layar raksasa, kualitas gambar lebih tajam, hingga tata suara yang lebih detail. Namun di balik popularitasnya saat ini, perjalanan IMAX ternyata cukup panjang.
Dilansir dari situs StudioBinder, IMAX merupakan perusahaan yang mengembangkan teknologi kamera, format film, proyektor, hingga desain bioskop sendiri. Nama IMAX sendiri berasal dari singkatan “Image Maximum”, yang menggambarkan tujuan utama format ini yakni menghadirkan gambar semaksimal mungkin kepada penonton.
Berbeda dari bioskop biasa, layar IMAX dibuat jauh lebih besar dan lebih tinggi, dengan rasio aspek khas 1.43:1 yang memungkinkan gambar tampil lebih luas secara vertikal. Sistem audionya pun berbeda, karena speaker ditempatkan di belakang layar untuk menghasilkan suara yang lebih menyatu dengan visual.
Menurut StudioBinder, IMAX awalnya berdiri di Kanada dengan nama Multiscreen Corporation sebelum berganti nama menjadi IMAX. Perusahaan ini didirikan oleh empat kreator, yakni Graeme Ferguson, Roman Kroitor, Robert Kerr, serta insinyur William Shaw.
Film pertama dalam format IMAX adalah Tiger Child yang diputar di Expo '70, Osaka, Jepang. Saat itu, IMAX lebih banyak digunakan untuk film dokumenter dan tayangan edukasi, terutama di museum atau gedung pameran.
Salah satu ciri khas utama IMAX adalah penggunaan film 70mm dengan sistem 15 perforasi, dikenal sebagai format 15/70. Berbeda dari film biasa yang berjalan vertikal, film IMAX bergerak horizontal di dalam kamera dan proyektor, memungkinkan resolusi yang jauh lebih tinggi, bahkan disebut mampu mencapai kualitas hingga 12K.
Namun teknologi ini punya tantangan. Kamera IMAX berukuran besar, berat, dan menghasilkan suara bising, sehingga tidak selalu praktis digunakan untuk film panjang. Itulah sebabnya pada masa awal, kebanyakan film IMAX berdurasi singkat.
Perubahan besar terjadi ketika The Walt Disney Company merilis Fantasia 2000 dalam format IMAX pada tahun 2000. Film ini menjadi film animasi panjang pertama yang ditayangkan secara eksklusif di IMAX dan membuka jalan bagi film-film mainstream masuk ke format tersebut.
Kemudian hadir teknologi Digital Media Remastering (DMR), yang memungkinkan film biasa diubah agar cocok ditayangkan di layar IMAX. Sejak saat itu, banyak film besar seperti Apollo 13, Star Wars: Episode II – Attack of the Clones, hingga The Dark Knight mulai hadir dalam versi IMAX.
Nama sutradara Christopher Nolan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan IMAX modern. Nolan dikenal sebagai pendukung setia format ini dan menjadi salah satu sineas pertama yang menggunakan kamera IMAX secara langsung untuk adegan film besar seperti The Dark Knight Rises, Interstellar, dan Dunkirk.
Pada 2008, IMAX mulai masuk ke jaringan bioskop multiplex melalui sistem proyektor digital. Format ini membuat IMAX lebih mudah diakses publik karena tidak lagi bergantung pada gedung bioskop khusus. Meskipun ukuran layar digital IMAX biasanya lebih kecil dibanding IMAX klasik, pengalaman visualnya tetap dianggap unggul dibanding layar standar. StudioBinder juga mencatat bahwa film-film modern seperti Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame menjadi tonggak penting karena sepenuhnya direkam menggunakan kamera digital IMAX.
Kini, IMAX bersaing dengan berbagai format premium lain seperti Dolby Laboratories melalui Dolby Cinema, Cinemark XD, hingga RPX. Meski begitu, IMAX tetap mempertahankan identitasnya sebagai format layar lebar premium dengan pengalaman visual dan audio ciri khasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....