“Ghost in the Cell”, Horor Brutal Joko Anwar yang Sarat Kritik Sosial

  • 22 Apr 2026 10:21 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Joko Anwar kembali menghadirkan karya yang berbeda lewat film Ghost in the Cell. Dalam proyek terbarunya ini, ia mengeksplorasi sisi kelam kehidupan di lembaga pemasyarakatan dengan pendekatan yang lebih berani dan penuh muatan kritik sosial.

Film ini tidak hanya mengandalkan unsur horor, tetapi juga menyuguhkan refleksi tajam tentang sistem yang bermasalah. Ceritanya berpusat pada entitas misterius yang memburu individu dengan emosi negatif, seperti amarah dan kebencian. Lewat premis tersebut, film ini menyiratkan pesan bahwa kejahatan manusia dapat menjadi sumber teror yang sesungguhnya.

Secara visual, Ghost in the Cell menampilkan adegan-adegan intens dengan elemen gore yang cukup kuat. Namun, kengerian tidak berhenti di situ. Joko Anwar juga menghadirkan sentuhan psikologis melalui simbol-simbol visual yang mengganggu, termasuk representasi pembusukan dan parasit sebagai metafora kerusakan moral para karakternya.

Latar Lapas Labuan Angsana digambarkan sebagai miniatur sebuah negara, tempat relasi kuasa berjalan timpang. Film ini memperlihatkan bahwa garis antara benar dan salah tidak selalu jelas bahkan, sosok yang seharusnya menegakkan aturan justru digambarkan lebih kejam dibanding para tahanan.

Kritik sosial dalam film ini terasa kuat, mulai dari praktik kekuasaan yang korup hingga ironi sosok idealis yang berubah seiring waktu. Relasi antara sipir dan narapidana juga ditampilkan kompleks, dengan adanya kolusi demi menjaga kendali dan citra.

Deretan pemain seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, hingga Kiki Narendra tampil solid menghidupkan cerita.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Aming. Ia tampil jauh dari citra komedinya dengan memerankan karakter psikopat yang dingin dan mengancam, menunjukkan transformasi akting yang signifikan.

Meski atmosfer film didominasi nuansa gelap, elemen humor tetap disisipkan melalui dialog-dialog satir yang menyinggung realitas sosial. Sentuhan ini menjadi penyeimbang agar penonton tidak sepenuhnya larut dalam tekanan visual dan emosional yang berat.

Dari sisi cerita, beberapa bagian mungkin terasa kurang logis atau repetitif, terutama terkait konsep supranatural yang diangkat. Namun, kekuatan utama film ini terletak pada karakter dan pesan yang disampaikan.

Pada akhirnya, Ghost in the Cell menegaskan bahwa teror paling nyata bukan berasal dari makhluk gaib, melainkan dari sistem yang rusak dan manusia yang kehilangan kendali. Film ini menghadirkan pengalaman menonton yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga mengajak penonton merenungkan realitas dengan cara yang pahit sekaligus relevan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....