Encore, Dari Opera ke Panggung Musik
- 11 Apr 2026 08:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Bagi penikmat konser musik, istilah encore tentu sudah tidak asing. Momen ketika band kembali ke panggung setelah “pamitan” sering kali menjadi bagian yang dinanti penonton. Namun di balik tradisi ini, ternyata ada cerita panjang sekaligus dinamika yang menarik.
Dilansir dari huffingtonpost.co.uk, encore pada dasarnya merupakan bagian dari “drama” pertunjukan yang sudah ada sejak era opera. Host Richard Osman menjelaskan bahwa pada masa itu, penyanyi opera biasanya menyiapkan lagu tambahan (aria) yang bisa dibawakan kembali jika penonton meminta. Seruan “encore” dari penonton pun menjadi sinyal bagi artis untuk kembali tampil.
Tradisi tersebut kemudian berlanjut hingga konser musik modern. Bahkan, menurut Osman, tidak ada makna yang terlalu dalam di baliknya, encore lebih merupakan kebiasaan yang terus dipertahankan karena disukai penonton. Hal ini juga berkaitan dengan strategi band yang biasanya menyimpan lagu-lagu populer mereka di bagian akhir agar penonton tetap bertahan hingga selesai.
Sementara itu, dilansir dari theguardian.com, tidak semua penonton memandang encore sebagai sesuatu yang spesial. Bagi sebagian penikmat konser berpengalaman, ritual ini justru dianggap terlalu “terencana” dan kehilangan unsur kejutan. Banyak band yang sudah menyiapkan daftar lagu encore sejak awal, bahkan lengkap dengan urutan penampilan.
Kritik ini muncul karena encore sering kali terasa seperti bagian dari skenario, bukan respons spontan terhadap permintaan penonton. Faktor teknis seperti batas waktu konser, kontrak, hingga pengaturan pencahayaan dan visual juga membuat encore harus dirancang dengan presisi.
Meski begitu, ada beberapa band yang pernah menghadirkan encore tak terduga. Band asal Inggris, New Order, dikenal sebagai salah satu yang kerap memberikan kejutan, mulai dari membawakan lagu tak terduga hingga tampil kembali setelah jeda yang cukup lama. Namun, seiring waktu, bahkan mereka pun akhirnya mengikuti pola encore yang lebih konvensional.
Di sisi lain, beberapa musisi memilih untuk meninggalkan tradisi ini sama sekali. Band seperti Arctic Monkeys dan The Wedding Present diketahui pernah tampil tanpa encore, sebagai bentuk penolakan terhadap ritual yang dianggap terlalu dibuat-buat.
Meski menuai pro dan kontra, encore tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman konser. Pada akhirnya, momen ini bisa menjadi penutup yang berkesan, baik sebagai bentuk interaksi dengan penonton maupun sekadar tradisi yang terus hidup di dunia musik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....