Mengenal Alarm Alami Tubuh: Fight or Flight

  • 29 Jan 2026 15:15 WIB
  •  Jember

RRI.co.id, Jember — Fight or flight merupakan respons alami tubuh saat menghadapi ancaman atau situasi yang dianggap berbahaya. Mekanisme ini berfungsi sebagai sistem alarm biologis yang mempersiapkan tubuh untuk bertahan dengan cara melawan atau menghindar dari sumber ancaman. Respons fight or flight dikendalikan oleh sistem saraf simpatik dan melibatkan pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Saat mekanisme ini aktif, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis, antara lain peningkatan denyut jantung, pernapasan menjadi lebih cepat, tekanan darah naik, serta aliran darah difokuskan ke otot-otot utama. Perubahan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan reaksi dalam waktu singkat.

Dalam kondisi normal, respons ini bersifat sementara dan akan mereda setelah ancaman berlalu. Sistem saraf parasimpatik kemudian bekerja untuk menenangkan tubuh dan mengembalikan fungsi organ ke kondisi seimbang. Namun, pada situasi stres berkepanjangan, respons fight or flight dapat aktif terlalu sering atau terlalu lama. Aktivasi yang terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan, seperti gangguan tidur, mudah lelah, peningkatan kecemasan, hingga masalah kardiovaskular. Tubuh seolah berada dalam kondisi siaga terus-menerus meskipun tidak menghadapi bahaya fisik secara langsung, misalnya akibat tekanan pekerjaan, masalah sosial, atau paparan informasi berlebihan.

Pemahaman mengenai mekanisme fight or flight penting agar individu dapat mengenali sinyal tubuh dan mengelola stres dengan lebih baik. Teknik relaksasi, pengaturan napas, aktivitas fisik teratur, serta manajemen waktu dan emosi menjadi langkah yang dapat membantu menyeimbangkan respons stres tubuh. Bila respons stres dirasakan berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, upaya konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan mental.

Lansiran: Tingginya tingkat stres masyarakat modern membuat respons fight or flight semakin sering dipicu, meskipun tidak selalu berkaitan dengan ancaman fisik.

Sumber:

– National Institute of Mental Health (NIMH)

– American Psychological Association (APA)

– Cleveland Clinic

– National Institutes of Health (NIH)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....