Sekuel Zootopia 2 Dapat Sambutan Hangat Kritikus

  • 26 Nov 2025 15:46 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Sekuel terbaru dari Walt Disney Animation Studios, Zootopia 2, mulai dipuji para kritikus internasional setelah penayangan awalnya. Ulasan menyatakan bahwa film ini bukan sekadar lanjutan, tetapi perluasan dunia Zootopia yang lebih matang, lebih luas, dan lebih kaya secara visual maupun tematik.

Kritikus dari Variety, Peter Debruge, menyebut Zootopia 2 sebagai sekuel yang “menjaga daya pikat film pertamanya sambil memperluas isu sosial yang diangkat.” Menurutnya, film ini berpindah dari ketegangan predator vs mangsa menuju kritik terhadap kerakusan pembangunan dan perebutan lahan yang mengancam kerukunan warga kota. Ia juga menilai penyutradaraan Byron Howard dan Jared Bush masih mempertahankan formula humor, misteri, dan pesan sosial yang menjadikan film pertamanya sukses.

Debruge menyoroti kehadiran karakter baru bernama Gary De’Snake, seekor ular pit viper biru yang disuarakan Ke Huy Quan. Meski reptil seringkali dipersepsikan negatif, tokoh ini disebut sebagai “tambahan yang sangat menggemaskan dan menghidupkan dinamika baru,” sekaligus memperluas representasi spesies dalam dunia Zootopia. Kritikus juga memuji kecepatan komedik, dialog cerdas, serta adegan kejar-kejaran yang dinilai berada pada tingkat teknis tertinggi yang pernah dicapai Disney selama dekade terakhir.

Dari sisi teknis, Debruge menilai film ini menunjukkan kemajuan besar dalam kualitas animasi. Adegan keramaian di berbagai distrik dan momen aksi di Marsh Market disebut sebagai “salah satu rangkaian animasi paling rumit yang pernah diproduksi Disney.” Ia menambahkan bahwa film ini sarat dengan detail visual, humor visual, serta referensi budaya pop yang hampir mustahil tertangkap hanya sekali menonton.

Meski banyak karakter favorit kembali hadir, kritikus menilai Zootopia 2 tetap mampu memberikan ruang bagi tokoh baru tanpa mengurangi peran Nick Wilde dan Judy Hopps sebagai pusat cerita. Dinamika hubungan keduanya ditampilkan lebih personal, menyerupai pasangan yang belajar beradaptasi dengan perbedaan karakter dan cara kerja.

Kritikus juga menegaskan bahwa kekuatan utama film ini tetap terletak pada pesan sosialnya. Jika film pertama bicara soal prasangka, film kedua mengangkat isu diskriminasi terhadap reptil serta pentingnya hidup berdampingan antarspesies. Pesan film terangkum dalam kalimat, “Reptiles are people too.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....