Jelajah Gua dan Teater Purba, Kenalkan Jejak Kepurbakalaan Watangan
- 16 Nov 2023 19:58 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Sebagai upaya untuk memperkenalkan potensi dan jejak kepurbakalaan di kawasan Gunung Watangan, Direktorat Kebudayaan Kemendikbudristek bekerjasama dengan Pemerintah Desa Lojejer, Wuluhan, dan Dewan Kesenian Jember (Dekaje) menyelenggarakan dua even sekaligus, Jelajah Gua dan Teater Purba, Kamis (16/11/23). Dua even ini merupakan bagian dari Galang Gerak Budaya Tapal Kuda (GGBTK).
“Ini adalah tahun kedua penyelenggaraan Jelajah Gua. Melalui acara yang sekarang menjadi bagian dari agenda Ditjen Kebudayaan ini kami ingin terus memperkenalkan gua-gua Watangan ke publik yang lebih luas," ujar Kepala Desa Lojejer, M Sholeh dalam sambutannya sebelum memberangkatkan peserta.
Dirinya berharap ke depan, kawasan Watangan bisa dikembangkan menjadi tempat edukasi kepurbakalaan bagi anak-anak dan generasi muda.
Jelajah Gua mengambil rute lima gua, yakni Gua Lawa, Glatik, Alit, Marjan, dan Sodong. Para peserta diajak mengenal dan menikmati gua yang di puluhan ribu tahun lalu menjadi tempat hunian manusia purba di kawasan Jember selatan.
Mereka juga harus memotret hal-hal unik dari gua yang dikunjungi. Foto-foto yang mereka hasilkan dikompetisikan melalui media sosial untuk mengenalkan secara luas aspek kepurbakalaan Watangan.
Selain menjelajah keindahan dan keunikan gua yang berada di kawasan hutan jati yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, para peserta juga disuguhi pertunjukan teater dengan tema manusia purba.
Pertunjukan teater digelar oleh para seniman yang bergabung dalam Dekaje di depan Gua Marjan dan Sodong.
Para seniman memerankan manusia purba, sebagai representasi dari kehidupan komunitas purba yang tinggal di gua-gua Watangan pada masa lalu.

Mereka pun berpakaian dan menggunakan alat ala manusia purba seperti kapak batu. Sebagaimana kehidupan manusia purba, para seniman melakukan adegan-adegan sederhana dengan ungkapan-ungkapan lisan yang unik. Di pimpin seorang tokoh, mereka menari mengelilingi api sebagai wujud kegembiraan.
Setelah melakukan pertunjukan di Gua Marjan, komunitas manusia purba diikuti para peserta jelajah bergerak menuju Gua Sodong. Di sana, sudah menunggu dengan penuh suka cita komunitas manusia purba lainnya.
Meskipun udara panas menghampiri hutan jati, para peserta dan warga masyarakat yang menikmati pertunjukan tetap antusias.
“Ini baru pertama kali, Mas. Cukup menarik, sangat menghibur. Kami jadi bisa membayangkan kehidupan manusia-manusia purba. Biasanya kami hanya lewat di depan gua untuk keperluan mencari rumput ke hutan,” ucap Bu Natun, salah satu warga Lojejer yang ikut menonton.
Di depan Gua Sodong para manusia purba memilih panglima untuk memimpin komunitas mereka. Maka, bertarunglah dua lelaki untuk memperebutkan posisi tersebut secara kesatria. Mereka saling menyerang dengan teknik dan kemampuan masing-masing, tanpa bantuan dari pihak manapun. Pimpinan dan para tetua tidak ada membantu salah satu calon. Mereka hanya memberikan semangat agar pertarungan antara dua calon panglima bisa berlangsung dengan fair.

Setelah salah satu calon memenangkan pertarungan, tokoh spiritual menyandingkannya dengan perempuan sebagai simbol kasih sayang dan kesuburan. Sehebat apapun seorang pemimpin tetap membutuhkan energi kasih sayang dan spritualitas agar selama memimpin bisa memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan kepada rakyat.
“Selain memiliki potensi kepurbakalaan, Gunung Watangan adalah pelindung dari angin samudra dan potensi tsunami. Kawasan pertanian cukup subur dan memberikan kehidupan kepada warga. Itulah mengapa, melalui kegiatan pertunjukan teater manusia purba ini, kami mengajak warga masyarakat dan para pemimpin untuk terus merawat kawasan Watangan agar bisa bermanfaat bagi generasi penerus,” kata Eko Suwargono, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember sekaligus sutradara pertunjukan teater purba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....