Kebo-keboan Alasmalang, saat Kerbau Menjadi Simbol Syukur

  • 29 Jun 2026 11:54 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi – Di tengah jalan desa, puluhan sosok bertubuh hitam pekat dengan tanduk di kepala berjalan perlahan, sesekali merangkak, berkubang, hingga berguling di tanah, Minggu 28 Juni 2026). Mereka bukan kerbau sungguhan, melainkan warga yang menjelma menjadi "kerbau" dalam ritual adat Kebo-keboan, tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Bagi masyarakat Alasmalang, Kebo-keboan bukan sekadar tontonan. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa agar tanah tetap subur dan panen berikutnya melimpah. Nilai-nilai itu menjadikan ritual ini tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Pagi itu, rangkaian ritual diawali dengan kenduri desa. Warga duduk bersila menikmati tumpeng dan Pecel Pithik, hidangan khas Banyuwangi yang menjadi simbol kebersamaan. Setelah doa bersama dipanjatkan, suasana berubah semakin semarak ketika prosesi ider bumi dimulai.

Puluhan peserta yang memerankan kerbau bergerak mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin. Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga hitam legam, lengkap dengan tanduk di kepala dan gelang kerincing di tangan serta kaki. Perut mereka diikat tali, menyerupai kerbau yang bersiap membajak sawah.

Sepanjang perjalanan, para "kerbau" menampilkan perilaku layaknya hewan yang menjadi sahabat petani. Mereka membajak sawah, berkubang di lumpur, saling bergumul, hingga berguling di jalan. Atraksi itu disambut tepuk tangan ribuan penonton yang memadati setiap sudut lintasan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Kebo-keboan merupakan cerminan kuatnya budaya agraris yang masih dijaga masyarakat hingga kini. Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga ruang untuk merawat nilai-nilai kebersamaan.

"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya secara turun-temurun. Saya menyampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan seluruh pihak yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," tutur Ipuk, Minggu 28 Juni 2026.

Ipuk menilai, Kebo-keboan mengajarkan nilai kerja keras, gotong royong, dan disiplin yang tumbuh dari kehidupan masyarakat pertanian. Nilai-nilai itu, katanya, sejalan dengan semangat "Tandang Bareng", yakni membangun Banyuwangi melalui kerja bersama.

Keunikan ritual tersebut juga memikat wisatawan mancanegara. Tara, wisatawan asal Amerika Serikat yang sebelumnya mengunjungi Gunung Ijen, mengaku takjub melihat prosesi Kebo-keboan.

"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," ujar Tara.

Di balik kemeriahan ritual, denyut ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. Warung-warung di sekitar lokasi dipenuhi pengunjung yang mencari makanan dan minuman setelah menyaksikan prosesi adat.

Siti, salah seorang pedagang, mengaku setiap penyelenggaraan Kebo-keboan selalu membawa rezeki bagi pelaku usaha kecil di desanya.

"Mulai minuman sampai camilan semuanya laris. Alhamdulillah," ucap Siti.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tradisi Kebo-keboan berawal pada abad ke-18 Masehi dari kisah Buyut Karti yang memperoleh wangsit untuk menggelar ritual bersih desa dengan menjelma menjadi kerbau. Sejak saat itu, kerbau menjadi simbol harapan akan kesuburan tanah, keselamatan warga, dan kemakmuran hasil pertanian.

Hingga kini, Kebo-keboan bukan hanya menjadi identitas budaya masyarakat Alasmalang. Tradisi tersebut telah berkembang menjadi magnet wisata budaya Banyuwangi yang setiap tahunnya menghadirkan ribuan pengunjung, sekaligus membuktikan bahwa warisan leluhur tetap hidup karena terus dirawat oleh masyarakatnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....