Gandrung Menyambut Fajar di Tengah Selat Bali
- 17 Jun 2026 09:24 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi - Langit di atas Selat Bali masih gelap ketika alunan musik tradisional mulai terdengar dari atas Kapal Dharma Rucitra, Selasa dini hari, 16 Juni 2026. Ombak bergulung pelan, angin laut berembus sejuk, sementara puluhan orang larut dalam suasana hening yang sakral.
Di tengah perairan yang memisahkan Pulau Jawa dan Bali itu, dua penari Gandrung mulai bergerak mengikuti irama. Perlahan, gerakannya mengalun lembut menyambut datangnya fajar. Bukan sekadar pertunjukan seni, tarian tersebut merupakan bagian dari ritual Gandrung Seblang-seblang Subuh, salah satu rangkaian Sedekah Segoro yang digelar masyarakat Desa Ketapang, Banyuwangi.
Ketika cahaya matahari mulai muncul dari ufuk timur, tarian terus berlangsung. Laut yang semula gelap berubah keemasan. Penumpang kapal dan tamu undangan tampak menikmati setiap gerakan penari yang berpadu dengan panorama alam Selat Bali.
Bagi masyarakat Ketapang, Sedekah Segoro bukan sekadar tradisi tahunan. Ritual ini menjadi bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk keselamatan masyarakat dan para pengguna jalur penyeberangan Banyuwangi-Bali.
Kepala Desa Ketapang, Slamet Utomo, mengatakan tradisi tersebut merupakan pengembangan dari petik laut yang selama ini dikenal masyarakat pesisir. Namun, Sedekah Segoro dikemas dengan sentuhan budaya lokal yang lebih kuat.
“Tujuannya untuk ikhtiar berharap keselamatan dan keberkahan pada tahun baru Islam, terutama di jalur penyeberangan ini,” kata Slamet, Selasa 16 Juni 2026.
Menurut Slamet, kehadiran Gandrung Seblang-seblang Subuh menjadi pembeda Sedekah Segoro Ketapang dengan tradisi serupa di daerah lain. Ritual tersebut sengaja dihadirkan sebagai upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di atas kapal yang terus bergerak membelah laut, tarian berlangsung hingga matahari benar-benar meninggi. Momen itu menjadi pengalaman yang tidak biasa, bahkan bagi sebagian masyarakat Banyuwangi sendiri.
Budayawan Banyuwangi, Subari Sufyan, menjelaskan bahwa Gandrung Seblang-seblang Subuh memiliki makna yang lebih dalam dibanding pertunjukan Gandrung pada umumnya.
Menurutnya, waktu pelaksanaan yang dilakukan menjelang subuh hingga terbit matahari memiliki nilai spiritual tersendiri. Dalam tradisi masyarakat Banyuwangi, waktu tersebut dianggap sebagai saat yang tepat untuk memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
“Kalau hanya Gandrung, itu sekadar pertunjukan. Tetapi kalau dilakukan sebelum subuh hingga subuh, ada unsur ritualnya. Penari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan ampunan untuk masyarakat, lingkungan, dan semua yang terlibat,” ujar Subari.
Tak hanya itu, ritual ini juga menyimpan jejak sejarah hubungan panjang Banyuwangi dan Bali. Sejak berabad-abad lalu, Selat Bali telah menjadi jalur penghubung aktivitas perdagangan masyarakat kedua wilayah.
Kala itu, warga Banyuwangi membawa hasil bumi seperti beras ke Bali, kemudian kembali dengan membawa berbagai komoditas untuk diperjualbelikan. Dari perjalanan-perjalanan tersebut lahir hubungan sosial dan budaya yang terus terjalin hingga kini.
Karena itulah Sedekah Segoro tidak menggunakan prosesi pelarungan kepala atau bagian tubuh hewan seperti yang lazim ditemukan dalam sejumlah tradisi petik laut. Sebaliknya, masyarakat memilih mengedepankan doa bersama sebagai simbol penghormatan kepada alam dan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan.
Keunikan lainnya terlihat dari keterlibatan masyarakat lintas agama. Mereka bersama-sama menaiki kapal, memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing, lalu melakukan tabur bunga di tengah Selat Bali.
Dan ketika Gandrung Seblang-seblang Subuh menutup tariannya di tengah cahaya pagi yang semakin terang, doa-doa yang dipanjatkan pun seolah ikut berlayar bersama kapal-kapal yang setiap hari melintasi Selat Bali. Sebuah harapan sederhana agar laut tetap menjadi ruang keselamatan, persaudaraan, dan keberkahan bagi semua yang melintas di atasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....