Tumpeng Sewu, Ribuan Warga Kemiren Duduk Bersama dalam Doa dan Syukur
- 22 Mei 2026 12:53 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Malam di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis, 21 Mei 2026 terasa berbeda. Sepanjang jalan desa dipenuhi hamparan tumpeng lengkap dengan lauk khas Osing. Ribuan warga duduk bersila berdampingan bersama wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Tidak ada sekat. Semua larut dalam suasana hangat penuh kebersamaan dalam tradisi Tumpeng Sewu.
Aroma pecel pitik yang khas bercampur dengan suara percakapan warga dan alunan doa yang menggema di sepanjang jalan desa. Lampu-lampu temaram menambah syahdu suasana malam masyarakat adat Osing yang setiap tahun menggelar ritual syukur menjelang Hari Raya Iduladha itu.
Tradisi Tumpeng Sewu bukan sekadar makan bersama. Bagi masyarakat Kemiren, ritual ini menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki sekaligus doa bersama agar desa dijauhkan dari bala dan bencana.
“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Allah atas limpahan rezeki selama satu tahun, sekaligus doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindarkan dari bala,” ujar Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin, KAmis 21 Mei 226.
Sebelum makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual Ider Bumi dengan mengarak barong mengelilingi desa. Dua barong diberangkatkan dari arah timur dan barat, lalu bertemu di depan balai desa. Warga percaya ritual tersebut menjadi simbol penolak bala dan penjaga harmoni desa.
Setelah doa bersama dipanjatkan, ribuan warga mulai menikmati tumpeng yang disajikan berjajar di depan rumah masing-masing. Pecel pitik menjadi sajian utama yang wajib hadir dalam tradisi tersebut. Olahan ayam kampung panggang dengan parutan kelapa berbumbu khas Osing itu menjadi kuliner warisan yang selalu dirindukan para pengunjung.
Di tengah keramaian, wisatawan asal Republik Ceko, Adam tampak menikmati suasana sambil sesekali berbincang dengan warga sekitar. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Kemiren.
“Beruntung saya bisa menjadi bagian dari tradisi ini. Makanannya enak, cocok di lidah. Masyarakatnya juga sopan dan ramah. Saya senang bisa ke sini,” ungkap Adam.
Hal serupa dirasakan Ati, wisatawan asal Semarang. Ia mengaku kagum dengan kekompakan warga yang bersama-sama menyiapkan ribuan tumpeng secara sukarela.
“Warganya rukun dan guyub. Masakannya juga lezat. Tadi sampai nambah dua kali,” katanya sambil tersenyum.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang hadir dalam tradisi tersebut menilai Tumpeng Sewu menjadi kekuatan budaya lokal yang tidak dimiliki semua daerah. Menurutnya, keterlibatan seluruh warga dalam tradisi tersebut menjadi bukti kuat bahwa budaya bukan hanya tontonan, melainkan bagian hidup masyarakat sehari-hari.
“Budaya gotong royong seperti ini tidak dimiliki semua daerah. Ini merupakan kelebihan Desa Kemiren yang harus terus dilestarikan,” ujar Ipuk.
Selain Tumpeng Sewu, rangkaian adat Kemiren juga diisi ritual Mepe Kasur dan Mocoan Lontar Yusuf semalam suntuk. Tradisi-tradisi tersebut menjadi penanda kuat bahwa masyarakat Osing tetap teguh menjaga warisan leluhur di tengah modernisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....