Dusun Balian, Harmoni Bali Kecil di Banyuwangi
- 11 Mei 2026 08:18 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Aroma dupa samar tercium saat memasuki Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Deretan rumah dengan ornamen khas Bali berdiri rapi di kanan-kiri jalan. Di beberapa sudut, gapura dan pura tampak menyatu dengan kehidupan warga yang berjalan tenang dan akrab.
Masyarakat Banyuwangi mengenal kawasan itu sebagai Dusun Balian. Julukan tersebut melekat karena mayoritas penduduknya merupakan umat Hindu. Namun lebih dari sekadar kampung bernuansa Bali, dusun ini menjadi potret harmoni keberagaman yang masih terjaga kuat di Banyuwangi.
Di dusun itu, perbedaan keyakinan bukan sekat. Warga hidup berdampingan dengan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan. Saat umat Hindu menggelar upacara, warga lain ikut membantu menyiapkan kebutuhan acara. Begitu pula sebaliknya.
“Kalau ada kegiatan pasti saling bantu. Sudah biasa seperti keluarga sendiri,” ujar Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana. Senin 11 Mei 2026.
Tak heran jika Dusun Patoman kerap disebut sebagai Kampung Pancasila. Toleransi tumbuh alami dalam kehidupan sehari-hari warga.
Suasana budaya juga terasa begitu kuat di dusun tersebut. Di tengah perkampungan berdiri sebuah pura desa yang tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar budaya bagi anak-anak dan remaja.
Menjelang sore, suara gamelan kerap terdengar dari area pura. Anak-anak tampak berlatih tari tradisional dengan penuh semangat, sementara beberapa remaja belajar memainkan alat musik tradisional.
Bagi warga Dusun Balian, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi cara merawat identitas mereka di tengah perubahan zaman. Di balik kehidupan yang kental dengan budaya, denyut ekonomi kreatif masyarakat juga terus bergerak. Salah satunya terlihat dari usaha seni ukir milik Kayan Suartana.
Pria yang sejak lama aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional itu mulai merintis usaha ukiran sejak tahun 2000. Di tangannya, kayu dan pasir pantai disulap menjadi ornamen rumah hingga patung artistik bernilai jual tinggi.
Karyanya kini dipasarkan hingga ke Bali, Nganjuk, dan Jawa Tengah. Bahkan dedikasinya dalam melestarikan budaya melalui seni membuatnya pernah menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 2015.
Tidak hanya seni, warga Dusun Balian juga mulai mengembangkan sektor pertanian bernilai ekonomi tinggi melalui budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang. Di lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi, Made Ardana merawat sekitar seribu pohon Cabe Jawa. Tanaman itu tampak merambat rapi di sela pepohonan penyangga.
“Perawatannya lebih mudah dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” ujar Made.
Meski terlihat sederhana, komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi. Setelah dikeringkan, Cabe Jawa dijual sekitar Rp85 ribu per kilogram dan dipasarkan hingga luar negeri seperti Jepang dan China untuk kebutuhan industri kosmetik.
Dusun Balian hari ini bukan hanya tentang kampung Hindu di Banyuwangi. Ia menjadi ruang hidup tempat budaya, toleransi, dan kreativitas tumbuh berdampingan.
Di tengah derasnya modernisasi, warga di dusun kecil itu tetap menjaga warisan leluhur sambil terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....