Ithuk-ithukan, Ritual Air dan Rasa Kebersamaan Warga Osing

  • 29 Apr 2026 14:58 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Pagi di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Rabu, 29 April 2026, terasa berbeda. Derap langkah warga yang berbaris rapi menuju Sumber Hajar menghadirkan suasana sakral sekaligus hangat.

Tradisi Ithuk-ithukan kembali digelar, menjadi penanda syukur atas sumber air yang selama ini menghidupi mereka. Di sepanjang perjalanan, kaum ibu tampil mencolok dengan ithuk yang disunggi di kepala. Alas makan dari daun pisang itu berisi aneka hidangan sederhana, mulai dari nasi hingga lauk seperti ingkung ayam bakar. Bagi warga, setiap sajian bukan sekadar makanan, melainkan simbol keberkahan yang ingin dibagi bersama.

Arak-arakan berjalan perlahan dari pusat permukiman menuju sumber mata air. Setibanya di Sumber Hajar, warga duduk melingkar, menundukkan kepala, memanjatkan doa, kemudian menyantab makanan bersama.

Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menuturkan tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan digelar setiap 12 Dzulqaidah. Ia menyebut Ithuk-ithukan sebagai pengingat bahwa air adalah anugerah yang harus dijaga.

“Sesuai tradisi, setiap 12 Dzulqaidah kegiatan ini digelar sebagai ungkapan syukur atas limpahan air untuk pertanian maupun kebutuhan sehari-hari warga,” ujar Suwandi.

Bagi masyarakat Rejopuro, Sumber Hajar memiliki arti lebih dari sekadar sumber air. Dari sanalah sawah-sawah mendapat kehidupan, dan dari sanalah pula hubungan sosial tumbuh semakin erat.

Tetua adat Dusun Rejopuro, Samino, menegaskan Ithuk-ithukan juga mengajarkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Ia menambahkan, nilai berbagi yang terkandung dalam tradisi tersebut menjadi perekat hubungan sosial antarwarga.

“Tradisi ini mengajarkan kesederhanaan, sehingga tidak boleh ada warga yang kelaparan. Contohnya, makan menggunakan ithuk dari daun pisang, dengan lauk sederhana seperti pakis dan manisa. Jika ada telur atau pecel pitik, itu hanya tambahan bagi yang mampu,” tutur Samino.

Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap dipertahankan. Ithuk-ithukan menjadi penanda bahwa modernitas tidak selalu harus menghapus kearifan lokal. Di Rejopuro, menjaga mata air berarti juga menjaga kehidupan. Dan melalui Ithuk-ithukan, warga memastikan bahwa warisan itu tetap mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....