Aroma Sego Lemeng Hidupkan Malam Festival "Janda Reni"

  • 21 Apr 2026 21:28 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Semerbak aroma nasi yang dibakar dalam bambu perlahan memenuhi udara malam di lereng Gunung Ijen, mengundang siapa saja untuk mendekat. Di sanalah, sego lemeng dan kopi uthek menjadi denyut kehidupan dalam event tahunan Festival “Janda Reni” di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu, 18 April 2026.

Ribuan warga dan wisatawan tumpah ruah di sepanjang jalan desa. Lampu-lampu sederhana berpadu dengan kepulan asap dari bambu yang dibakar, menciptakan suasana hangat dan akrab. Tangan-tangan warga dengan cekatan menyajikan hidangan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Osing.

Sego lemeng bukan sekadar nasi. Ia adalah cerita tentang kesabaran. Nasi berbumbu yang telah dicampur daging ayam atau ikan dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam bambu muda. Proses pembakaran yang memakan waktu hingga 4 jam membuat setiap butir nasi menyerap aroma kayu dan bambu, menghadirkan cita rasa yang sulit dilupakan.

Di sampingnya, tersaji kopi uthek—minuman sederhana dengan cara menikmati yang unik. Gula aren digigit terlebih dahulu, lalu kopi pahit diseruput. Saat gigi memecah gula, terdengar bunyi “uthek”, yang kemudian menjadi nama minuman khas Desa Banjar ini. Pahit dan manisnya menyatu, seperti kisah hidup yang tak selalu berjalan lurus.

Bagi masyarakat setempat, “Janda Reni” bukan sekadar festival. Tokoh adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari proses pemisahan bunga aren, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan agraris warga.

“Reni adalah bunga aren, sedangkan janda atau rondo berarti pemisahan. Ini bagian dari tradisi yang sudah lama dijalankan masyarakat,” ujar Lukman, Sabtu 19 April 2026.

Makna itu kemudian diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepala Desa Banjar, Sunandi, menyebut perpaduan sego lemeng dan kopi uthek menggambarkan filosofi hidup masyarakat Osing.

“Kopi uthek dengan gula aren mencerminkan pahit manis kehidupan. Sementara sego lemeng menjadi simbol kecukupan,” ungkap Sunandi.

Di tengah keramaian, wajah-wajah penuh senyum tampak menikmati setiap suapan. Bagi Edy, wisatawan asal Sidoarjo, pengalaman ini bukan sekadar soal rasa.

“Perpaduan gurih dan pahit-manisnya beda. Ada sensasi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain,” katanya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menilai kekuatan tradisi seperti ini menjadi identitas yang harus terus dijaga. Tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai daya tarik wisata.

“Masyarakat Banyuwangi memiliki akar kuat pada tradisi, termasuk kuliner. Karena itu kami kemas dalam event agar tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi,” ujar Ipuk, Minggu, 19 April 2026.

Malam terus berjalan, namun semangat tak surut. Dari bara api yang membakar bambu, dari aroma yang menguar di udara, hingga tawa yang mengisi jalan desa, Janda Reni bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk terus dihidupkan. Di Desa Banjar, rasa tidak hanya dinikmati di lidah. Ia tinggal dalam ingatan—dan mungkin, akan selalu memanggil untuk kembali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....