Dari Kangkung, Emak-Emak Penataban Rayakan Kemerdekaan

  • 04 Agt 2025 17:39 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Suara riuh rendah terdengar di halaman Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Banyuwangi, Minggu (3/8/2025). Puluhan emak-emak tampak duduk berjejer rapi, tangan mereka cekatan memilah batang kangkung, lalu mengikatnya dengan tali rafia. Bukan tanpa sebab, hari itu mereka sedang berlomba unting kangkung, cara unik warga Penataban merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Bagi warga luar, lomba ini mungkin terdengar sederhana, bahkan sepele. Namun bagi masyarakat Penataban, ini adalah kebanggaan. Di balik seikat kangkung, tersimpan kisah perjuangan, tradisi, dan napas kehidupan.

“Sejak kecil saya sudah diajari unting (mengikat) kangkung sama ibu. Dulu sebelum ke sekolah, disuruh ngikat kangkung dulu,” cerita Sriatun (63), salah satu peserta kategori lansia, sambil tertawa kecil mengenang masa kecilnya, Minggu (3/8/2025).

Kelurahan Penataban memang dikenal sebagai sentra penghasil kangkung di Banyuwangi. Kangkung-kangkung segar yang dijual di pasar tradisional hingga yang disantap di rumah makan Bali, sebagian besar berasal dari tangan-tangan cekatan ibu-ibu Penataban. Di sinilah aktivitas memilah dan mengikat kangkung menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Lurah Penataban, Komariyah, menyebut lomba ini bukan hanya untuk memeriahkan hari kemerdekaan, melainkan juga upaya menjaga tradisi lokal.

“Zaman dulu, nenek-nenek kita piawai unting-unting sebelum kangkung dijual ke pasar. Ini tradisi yang harus terus dilestarikan,” ujar Komariyah.

Lomba unting kangkung ini diikuti oleh 19 RT yang terbagi dalam dua kategori: remaja usia 17-25 tahun dan lansia 65-70 tahun ke atas. Mereka beradu kecepatan dan kerapian dalam membersihkan, memilah, dan mengikat kangkung. Tugasnya tampak sederhana, namun ketelitian dan kecepatan adalah kunci.

"Kalau belum bisa unting-unting kangkung, belum bisa disebut orang Penataban asli," ujar Komariyah, dengan nada bercanda yang disambut gelak tawa para peserta.

Sebagian besar keluarga di Penataban bertani kangkung. Para ibu bertugas dalam proses pasca panen, mulai dari pemilahan batang yang layak jual hingga mengikatnya dalam ikatan kecil berisi 5 hingga 7 batang. Harga per seratus ikat bisa mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung kualitas.

"Kangkung ini jadi sumber penghidupan warga kami. Dari situ anak-anak sekolah, dari situ dapur bisa ngebul," ucap Komariyah.

Bagi para peserta, lomba ini juga menjadi momen kebanggaan. Selain menjadi ajang silaturahmi, mereka bisa menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tangga yang biasa mereka lakukan sehari-hari adalah tradisi yang patut diapresiasi.

Salah satu peserta remaja, Nia (19), mengaku bangga mengikuti lomba ini. Menurutnya untung Kangkung merupaka tradisi turun temurun warga Penataban.

"Biasanya cuma ibu yang ngikat kangkung. Sekarang aku juga ikut, biar tradisi ini nggak hilang," ujar Nia.

Lomba unting kangkung di Penataban membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tidak harus dirayakan dengan kemegahan. Lewat kangkung, warga Penataban menunjukkan bahwa kebersamaan, tradisi, dan kerja keras adalah wujud nyata rasa cinta pada tanah air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....