Dedikasi Guru Honorer Pelosok Banyuwangi Sentuh Hati Bupati Ipuk

  • 06 Mei 2025 21:24 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Agus Hermanto, seorang guru honorer di pelosok Banyuwangi menarik perhatian dari Bupati Ipuk Fiestiandani. Lebih dari sekadar mengajar, Agus memiliki inisiatif luar biasa untuk memastikan anak-anak di desanya tetap mengenyam pendidikan, bahkan, ia tak jarang harus turun langsung menjemput murid-muridnya agar rutin masuk sekolah.

Agus setia mengabdi di SMP 3 Satu Atap Wongsorejo, yang terletak di Dusun Pringgondani, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, yang berada diinggir kawasan hutan, sejak tahun 2009. Meski berstatus honorer dan masih berusia muda, Agus dengan tulus memilih profesi mulia sebagai guru di tengah segala keterbatasan.

"Mas Agus adalah potret ketulusan yang sesungguhnya. Di usia yang masih muda, pengabdiannya sungguh luar biasa. Di saat banyak orang seusianya mencari pekerjaan yang lebih nyaman, beliau justru memilih untuk terus bertahan di daerah terpencil ini," ungkap Bupati Ipuk Fiestiandani, saat mengunjungi kediaman Agus, Senin (5/5/2025).

Setiap harinya, guru berusia 36 tahun ini harus melewati jalanan berbatu dan menanjak, menaklukkan medan yang sulit demi satu tujuan mulia yakni memastikan tidak ada anak di desanya yang putus sekolah hanya karena terkendala biaya atau faktor geografis.

Menurut Bupati Ipuk, perjuangan Agus lebih dari sekadar menyampaikan ilmu di dalam kelas. Ia adalah sosok yang mampu menyalakan harapan bagi masa depan anak-anak pelosok, dedikasi guru muda ini menjadi teladan yang patut diacungi jempol.

"Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas dedikasi Mas Agus yang luar biasa ini. Kisah beliau semakin memotivasi kami untuk mengoptimalkan berbagai program pendidikan, terutama dalam upaya pengentasan anak putus sekolah di Banyuwangi," ujar Bupati Ipuk.

Agus mengatakan, menjadi guru di daerah pelosok bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, ia berperan sebagai motivator, penggerak semangat, sekaligus penjaga mimpi bagi anak-anak di ujung desa.

"Setiap pagi sebelum memulai pelajaran, saya selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan anak-anak. Saya bertanya tentang kabar mereka, semangat mereka, dan apakah ada kendala yang mereka hadapi. Setelah itu, barulah kami mulai belajar," Ujar Agus.

Ia tak segan mendatangi rumah-rumah warga berkali-kali, berdiskusi dan membujuk orang tua agar mengizinkan anak-anak mereka untuk terus bersekolah. Bahkan, ketika ada siswa yang tidak hadir saat ujian, Agus tak ragu untuk menjemputnya langsung ke rumah, mulai membangunkan, menunggu hingga siswa tersebut siap, lalu memboncengnya dengan sepeda motor menuju sekolah.

“Mengajar di pelosok memang melelahkan secara fisik, tapi begitu melihat semangat belajar anak-anak, hati ini terasa hangat. Semua rasa lelah itu hilang seketika,” kata Agus.

Ia juga senantiasa memberikan motivasi kepada anak-anak didiknya agar tidak merasa rendah diri dengan gemerlap kehidupan di kota. Justru dari desa, Agus menanamkan keyakinan bahwa harapan untuk meraih cita-cita tidak pernah sirna.

Terinspirasi dari cerita Agus, Bupati Ipuk berjanji akan lebih mengoptimalkan berbagai program daerah yang berfokus pada penanganan anak putus sekolah. Salah satu program andalan adalah Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh). Program ini secara aktif menjaring anak-anak yang tidak lagi bersekolah dan membantu mereka untuk kembali ke bangku pendidikan melalui berbagai skema dukungan.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....