Berkah Tersembunyi untuk UMKM di Pawai Kunang-kunang Kebudayaan

  • 30 Sep 2026 16:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember: Kawasan jalan Branjangan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, mendadak berubah menjadi lautan manusia dan kemeriahan pada Minggu, 27 September 2026. Ribuan warga tampak memadati bahu jalan guna menyaksikan dari dekat perhelatan Pawai Kunang-kunang Kebudayaan yang memukau. Tidak hanya menyuguhkan suguhan tradisi yang sarat makna estetika, gelaran meriah ini ternyata sukses menjadi magnet kuat yang menggerakkan roda perekonomian warga sekitar. Karnaval tradisional yang dibalut dalam Pawai Kunang-kunang Kebudayaan menjadi berkah bagi para pelaku UMKM setempat.

Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi matang lintas sektor yang melibatkan Festival PEKA, Yayasan Rumah Budaya Nara Bestari, serta inisiatif swadaya dari warga setempat. Perhelatan akbar tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sinergi positif ini membuktikan bahwa pelestarian tradisi nusantara dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan komunitas masyarakat akar rumput secara berkelanjutan.

Dampak positif dari kegiatan ini langsung dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang kaki lima di kawasan Bintoro. Pembina dan Pengelola Yayasan Nara Bestari, Hadi Poernomo, menjelaskan bahwa kehadiran ruang publik yang hidup secara otomatis menciptakan pusat-pusat keramaian baru. Lonjakan kunjungan masyarakat yang menikmati hiburan budaya tersebut berbanding lurus dengan peningkatan omzet para pedagang lokal yang menjajakan produknya di sepanjang rute pawai.

"Ketika kita memberikan ruang ekspresi kebudayaan kepada publik, hal itu menciptakan pusat keramaian. Masyarakat datang untuk menikmati hiburan, dan situasi ini secara langsung menarik kehadiran para pedagang serta UMKM. Pada titik inilah roda perekonomian lokal mulai tumbuh dan berputar," ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.

Lebih dari sekadar perputaran ekonomi dan panggung hiburan semata, Pawai Kunang-kunang Kebudayaan juga membawa misi mulia berupa kampanye edukasi dan kepedulian ekologi. Penyelenggara sengaja menolak penggunaan sistem pengeras suara modern demi mengembalikan esensi karnaval yang ramah lingkungan. Melalui keterlibatan anak-anak dalam menyuarakan pesan cinta lingkungan, acara ini berhasil memadukan kreativitas seni tradisional dengan kesadaran menjaga kelestarian alam secara harmonis.

"Kami ingin merespons keresahan publik terhadap fenomena karnaval belakangan ini. Melalui ajang ini, seni, kreativitas dan kesadaran ekologi dipadukan. Kami pakai pengeras suara sederhana, alat TOA. Jadi acara ini sengaja diselenggarakan tanpa penggunaan sound sistem berdaya ledak tinggi atau sound horeg, guna mengembalikan karnaval pada jati dirinya," tutur Hadi Poernomo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....