Harga Daging Ayam di Bondowoso Tembus Rp42 Ribu
- 23 Agt 2026 18:13 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Harga daging ayam di Pasar Induk Bondowoso, Jawa Timur, terus mengalami kenaikan hingga menembus Rp42 ribu per kilogram. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap pola belanja masyarakat maupun pelaku usaha kuliner.
Kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam sekitar tiga pekan terakhir. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram, naik sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap beberapa hari hingga mencapai puncaknya pada pekan ini.
Rere, salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Induk Bondowoso, mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan tersebut. Namun, ia menduga tingginya permintaan saat musim selamatan dan momentum hari besar turut memengaruhi harga.
Selain itu, menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap harga daging ayam.
" Dua malam baru naik, sebelumnya Rp42 ribu, sebelumnya Rp41 ribu,” ujar Rere saat dikonfirmasi.
| Baca juga: Haega Cabai Merah Kecil Berangsur Turun |
Ia menuturkan, harga daging ayam sempat turun ketika pelaksanaan MBG libur beberapa waktu lalu, bahkan berada di kisaran Rp24 ribu per kilogram.
Kenaikan harga saat ini belum membuat masyarakat sepenuhnya berhenti membeli. Namun, jumlah pembelian mulai dikurangi. Jika sebelumnya ibu rumah tangga biasa membeli satu kilogram, kini sebagian hanya membeli setengah kilogram atau menyesuaikan dengan kemampuan belanja.
“Kadang beli Rp30 ribu, kekuatan mereka kan cuma di level itu,” jelasnya.
Kondisi serupa dirasakan Ita, seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Tenggarang. Ia mengaku tetap membeli daging ayam karena menjadi salah satu sumber protein yang disukai anak-anaknya.
Namun, kenaikan harga membuat frekuensi pembelian berkurang. Jika sebelumnya ia membeli daging ayam hingga empat kali dalam sepekan, kini hanya satu kali dalam sepekan dengan jumlah sekitar satu kilogram.
“Harganya kan mahal. Ya mungkin mulai sudah habis liburan. MBG mulai lagi, kan mahal lagi,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga, Ita kini lebih sering mengganti menu daging ayam dengan tempe, tahu, dan telur yang diolah menjadi berbagai masakan. Menurutnya, harga telur masih relatif stabil sehingga menjadi alternatif bagi keluarganya.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk menjaga harga daging ayam tetap stabil dan terjangkau masyarakat.
“Bisa menstabilkan lagi, bisa menjangkau lagi,” harapnya.
Sementara itu, kenaikan harga juga dirasakan pelaku UMKM kuliner. Puput, pemilik usaha Ayam Pop di Bondowoso, mengaku harus menaikkan harga jual produknya sekitar 10 hingga 20 persen akibat melonjaknya harga bahan baku ayam dalam dua pekan terakhir.
Sebelumnya, harga daging ayam yang digunakan untuk kebutuhan usahanya paling tinggi berada di kisaran Rp37 ribu per kilogram. Namun, kini harganya telah mencapai Rp40 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram.
“Harga ayam makin lama makin naik, ini harganya saja per hari ini di angka Rp40 sampai Rp42 ribu per kilogram,” kata Puput.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut cukup memberikan tekanan terhadap keberlangsungan usaha mikro yang dijalankannya. Terlebih, usaha tersebut saat ini telah mempekerjakan sekitar delapan orang.
“Saya juga heran kenapa kok bisa sangat tinggi. Karena saya juga merasa, sebagai usaha mikro, sangat ngefek,” pungkasnya.
Kenaikan harga daging ayam ini pun diharapkan segera mendapat perhatian pemerintah, mengingat komoditas tersebut menjadi salah satu kebutuhan pangan masyarakat sekaligus bahan baku utama bagi sejumlah pelaku UMKM kuliner di Bondowoso.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....