Kopi Syahdu dan Perjuangan Fredi Menjaga Asa dari Muncar

  • 24 Mei 2026 20:03 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Aroma kopi robusta menyeruak pelan dari sebuah rumah sederhana di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Di tempat itu, Fredi Hadi Prianto meracik satu per satu kopi sachet bermerek “Kopi Syahdu”, usaha yang lahir dari kegagalan, kelelahan, sekaligus ketekunan yang ia rawat perlahan.

Tidak banyak yang tahu, usaha kopi tersebut bermula dari sisa dua kilogram kopi bubuk yang nyaris tak terpakai. Fredi, pria kelahiran Surabaya, 14 September 1978, awalnya hanya membuka kedai kopi kecil pada 2020. Modal Rp15 juta ia gunakan untuk menyewa tempat, membeli bahan baku kopi robusta, serta menyediakan makanan ringan seperti pisang goreng, tahu petis, dan mi goreng.

Sepulang bekerja di perusahaan swasta, ia membuka kedainya mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WIB. Hari-harinya dihabiskan bekerja sejak pagi hingga larut malam.

Namun ritme itu tidak bertahan lama. Tubuhnya mulai kelelahan. Kedai yang sempat ramai perlahan berhenti beroperasi. Bukan karena pelanggan hilang, tetapi karena tenaga dan waktunya tak lagi cukup untuk menjalankan semuanya sekaligus.

Pada 2024, ia melihat sisa kopi yang masih tersimpan. Dari situ muncul ide sederhana: mengemas kopi menjadi produk sachet agar lebih praktis dipasarkan. Ia memulainya dari lingkaran kecil—teman, relasi, dan komunitas yang sudah mengenalnya. Perlahan, kopi racikannya mulai mendapat tempat.

“Awalnya saya hanya berpikir bagaimana kopi ini tetap bisa jalan dan tidak terbuang. Ternyata respons teman-teman cukup bagus,” ujar Fredi, Minggu 24 Mei 2026.

Nama “Kopi Syahdu” dipilih untuk menghadirkan kesan tenang dan akrab bagi penikmat kopi. Produk tersebut kini dikemas dalam kotak berisi 10 sachet dengan harga mulai Rp45 ribu hingga Rp80 ribu.

Pemasaran dilakukan dengan cara yang sederhana namun konsisten. Fredi aktif membangun relasi melalui berbagai kegiatan komunitas dan sosial.

Kedainya kerap menjadi tempat berkumpul komunitas motor, mobil, hingga kegiatan sosial seperti sosialisasi HIV dan narkoba. Dalam beberapa kegiatan, ia bahkan menyediakan kopi gratis sebagai bentuk dukungan sosial. Baginya, kopi bukan sekadar produk dagangan, tetapi media membangun hubungan antarmanusia.

Strategi berbasis relasi itu perlahan membuahkan hasil. “Kopi Syahdu” mulai dikenal hingga luar Banyuwangi. Produk tersebut kini telah dipasarkan ke Surabaya, Bali, Malang, Mojokerto, Tangerang, hingga Bekasi.

Perjalanan usahanya juga semakin kuat setelah mengantongi legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), dan sertifikasi halal.

Menurut Fredi, dukungan pemerintah daerah melalui pendampingan UMKM cukup membantu pelaku usaha kecil untuk berkembang lebih baik. Meski begitu, ia menilai banyak pelaku UMKM masih membutuhkan pendampingan dalam hal manajemen usaha dan pemasaran agar mampu bersaing lebih luas.

“Produk bagus saja tidak cukup kalau tidak tahu cara memasarkannya,” kata Fredi.

Di balik perjalanan itu, Fredi juga mengaku mendapat dukungan besar dari orang-orang terdekat, termasuk dua rekannya, Novian dan Danny, yang terus mendorongnya agar percaya diri mengembangkan usaha. Kini omzet “Kopi Syahdu” memang masih sekitar Rp2 juta per bulan. Namun bagi Fredi, angka itu bukan akhir, melainkan pijakan untuk terus tumbuh.

Ia berharap suatu hari usahanya dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar sekaligus menjadi inspirasi bagi anak muda untuk berani memulai usaha dari hal kecil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....