Kisah Arif: Belajar, Bertahan, Lalu Bertumbuh
- 29 Apr 2026 09:55 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang- Tidak semua perjalanan sukses dimulai dari keahlian. Sebagian justru lahir dari rasa penasaran, keberanian mencoba, dan keteguhan untuk tidak menyerah saat gagal.
Itulah yang tergambar dari perjalanan Arif Hermawan (28), pemuda asal Lumajang yang kini sukses mengembangkan usaha hidroponik dengan omzet hingga Rp21 juta per panen. Padahal, titik awalnya sangat sederhana, bahkan bisa dibilang penuh kegagalan.
Arif bukan lulusan pertanian. Ia menempuh pendidikan ekonomi syariah dan sempat bekerja sebagai sales marketing. Dunia hidroponik sama sekali asing baginya. Namun satu hal yang ia miliki sejak awal: kemauan untuk belajar.
Dari layar kecil YouTube, Arif mulai menyusun mimpinya. Ia mempelajari dasar-dasar hidroponik secara otodidak, memperkaya wawasan lewat seminar, dan terus mencari tahu bagaimana menanam tanpa tanah bisa menjadi peluang usaha.
Percobaan pertamanya tidak berjalan mulus. Dengan 70 botol bekas sebagai media tanam, ia justru menemui kegagalan. Namun di titik itu, Arif tidak berhenti. Ia memilih bertahan.
“Dari gagal itu, saya belajar lagi. Pelan-pelan diperbaiki,” ujarnya.
Bersama sang istri, ia kemudian memanfaatkan loteng rumah seluas 40 meter persegi. Dari ruang sempit itulah, ia membangun sistem hidroponik sederhana dengan 340 lubang tanam sebuah langkah kecil yang kemudian menjadi titik balik besar.
Tanaman mulai tumbuh. Hasil panen pertama tidak dijual, melainkan dibagikan ke tetangga. Respons positif yang ia terima menjadi bahan bakar semangat untuk melangkah lebih jauh.
Dari situ, pesanan mulai berdatangan. Usahanya berkembang perlahan, hingga akhirnya Arif berani mengambil keputusan besar: meninggalkan pekerjaan tetap dan fokus penuh pada hidroponik.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ia bahkan harus mengambil pinjaman bank sebesar Rp65 juta untuk mengembangkan usahanya. Namun bagi Arif, risiko adalah bagian dari proses bertumbuh.
Kerja kerasnya terbayar. Lahan diperluas menjadi 220 meter persegi dengan 4.200 lubang tanam. Produksi meningkat drastis, hingga kini mampu menghasilkan lebih dari 7 kuintal selada setiap 40 hari.
Dengan harga jual rata-rata Rp30 ribu per kilogram, omzetnya mencapai sekitar Rp21 juta dengan keuntungan bersih Rp15 juta per panen.
Namun bagi Arif, pencapaian terbesar bukan hanya soal angka.
Permintaan yang terus meningkat termasuk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuktikan bahwa usaha kecil yang ditekuni dengan serius bisa menjadi solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Lebih dari itu, Arif memilih untuk tidak berjalan sendiri. Ia membina sembilan mitra aktif, membantu mereka memulai usaha serupa tanpa mengikat hasil panen mereka.
“Saya ingin mereka bisa mandiri, bukan bergantung,” katanya.
Kisah Arif adalah pengingat sederhana: tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Tidak perlu menjadi ahli untuk mencoba. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk belajar, ketahanan untuk melewati kegagalan, dan konsistensi untuk terus melangkah.
Dari 70 botol bekas yang gagal, lahirlah usaha yang kini menghidupi. Dari loteng sempit, tumbuh harapan yang luas. Dan dari satu keputusan untuk tidak menyerah, masa depan perlahan berubah arah. (Kominfo-lmj/Ard)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....