UMKM Pembuat Kotak Cabai di Kalianyar Berdayakan Lansia

  • 09 Nov 2025 09:37 WIB
  •  Jember

KBRN, Bondowoso: Sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, menarik perhatian publik. Usaha pembuatan kotak cabai dan sayur milik Fathor Herman (38) tersebut mempekerjakan mayoritas pekerja berusia lanjut. Dari total pekerja yang ada, delapan orang merupakan lansia dengan rentang usia 50 hingga 80 tahun.

Keberadaan para pekerja lansia ini menjadi pemandangan tak biasa, mengingat pada umumnya tenaga kerja berusia lanjut kerap tersingkir dari persaingan dunia kerja. Namun, di bengkel sederhana milik Fathor, para lansia justru kembali memiliki ruang untuk tetap produktif.

“Tidak ada kriteria khusus untuk bekerja di sini. Yang penting mau bekerja dan jujur. Kebetulan memang banyak yang usianya sudah lanjut,” ujar Fathor, Minggu (9/11/2025).

Meski usia tidak lagi muda, para pegawai tetap terampil mengerjakan berbagai tahapan produksi. Mulai dari memotong kayu menggunakan mesin, memasang kawat, memaku badan kotak, hingga mengangkut hasil jadi ke teras rumah produksi.

Menurut Fathor, pekerjaan berlangsung fleksibel. Para pekerja dapat pulang dan kembali sesuai kebutuhan, seperti untuk istirahat, makan, atau melaksanakan ibadah. Hal ini dimungkinkan karena hampir seluruh pekerja tinggal di sekitar lokasi usaha.

“Di sini banyak yang nganggur, ya saya ajak kerja saja. Saya cuma ingin menambah orang yang mau kerja,” tambahnya.

Usaha pembuatan kotak ini telah berjalan sejak 2018. Pada awalnya, Fathor hanya memproduksi beberapa puluh kotak berdasarkan pesanan teman. Namun, seiring meningkatnya permintaan, ia mulai merekrut pekerja sekitar tahun keempat.

Kini, setiap hari ia memproduksi sekitar 200 kotak cabai dan sayur dengan ukuran 60x42x40 sentimeter. Satu kotak mampu menampung hingga 30 kilogram cabai. Setiap kotak dijual seharga Rp15.000.

Dengan jumlah produksi tersebut, perputaran transaksi mencapai sekitar Rp3 juta per malam. Kotak-kotak hasil produksi dikirim ke sejumlah wilayah, seperti Bondowoso, Jember, dan Situbondo.

Untuk bahan baku, Fathor mendapatkan suplai kayu nangka dan mahoni dari pemasok lokal di Desa Alas Sumur. Meski usahanya telah berkembang dan memberi manfaat sosial bagi warga sekitar, ia mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

“Semuanya modal sendiri. Tidak pernah dikasih bantuan,” ungkapnya.

Salah satu pekerja lansia, Sanidan (80), mengaku senang masih diberi kesempatan bekerja di usia senja. Meski sebelumnya tidak mendapat izin dari keluarga karena kondisi fisik, ia merasa bekerja membuat hidupnya lebih berarti.

“Kalau cuma duduk dan tidur itu tidak enak. Badan ingin bergerak,” ujarnya.

Pendapat yang diperolehnya digunakan untuk kebutuhan pribadi, termasuk sesekali memberi uang kepada cucunya.

“Kalau pengen beli sesuatu, ya bisa. Kasih ke cucu juga,” tutupnya dengan senyum.

Keberadaan UMKM ini bukan hanya memberikan peluang kerja bagi warga sekitar, namun juga membuka ruang bagi para lansia untuk tetap produktif dan mandiri. Sebuah contoh nyata pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal yang layak mendapat perhatian lebih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....