Paham Ekonomi, Remaja Belajar Kelola Uang sejak Dini

  • 16 Sep 2026 16:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember– Ekonomi ternyata tidak selalu berkaitan dengan pasar, bisnis, maupun kondisi perekonomian negara. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ekonomi justru hadir melalui berbagai keputusan sederhana, mulai dari mengatur uang saku, memilih kebutuhan, membandingkan harga, hingga menentukan apakah seseorang perlu membeli suatu barang. Hal tersebut dibahas dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Jember bersama Zainuril Hakim atau Aril dari IKMASS pada Rabu 15 September 2026.

Dalam dialog tersebut, Aril menjelaskan bahwa ekonomi pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana manusia memenuhi berbagai kebutuhan dengan sumber daya yang terbatas. Kondisi tersebut membuat setiap orang perlu menentukan pilihan dan menyusun prioritas. “Ekonomi bukan hanya urusan pemerintah, pengusaha, atau ekonom. Setiap orang sebenarnya melakukan aktivitas ekonomi setiap hari,” ujar Aril.

Menurut Aril, aktivitas ekonomi dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan sederhana. Ketika seseorang membandingkan harga barang di pasar, memilih menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi, hingga mengatur uang kiriman agar cukup sampai akhir bulan, semuanya merupakan bentuk pengambilan keputusan ekonomi. Salah satu hal penting yang perlu dipahami, khususnya oleh anak muda, adalah perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang diperlukan untuk menunjang kehidupan atau aktivitas, sedangkan keinginan lebih berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki meskipun belum tentu harus dipenuhi segera. Kemampuan menentukan prioritas menjadi penting agar keinginan tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih utama.

Perubahan harga barang juga menjadi bagian dari dinamika ekonomi yang dirasakan masyarakat. Aril menjelaskan, kenaikan maupun penurunan harga dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk hubungan permintaan dan penawaran, biaya produksi dan distribusi, kondisi cuaca, produksi pertanian, nilai tukar, hingga kebijakan tertentu. Ia juga menjelaskan bahwa inflasi secara sederhana merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam periode tertentu. Apabila pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding, kenaikan harga tersebut dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

Pemahaman mengenai ekonomi kemudian berkaitan erat dengan literasi keuangan. Bagi anak muda, kemampuan mengatur uang sejak dini dapat dimulai dari hal sederhana seperti membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan uang untuk tabungan, serta menentukan batas pengeluaran untuk hiburan.

Hal tersebut sejalan dengan perhatian Otoritas Jasa Keuangan atau OJK terhadap literasi keuangan generasi muda. Dalam siaran pers pada 18 Agustus 2026, OJK menyebut kemampuan mengelola keuangan perlu dibangun sejak usia muda melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. OJK juga menekankan pentingnya kemampuan generasi muda mengambil keputusan keuangan secara bijak dan tidak mudah terpengaruh tren maupun gaya hidup.

Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan media sosial dan ekonomi digital. Menurut Aril, berbagai tren yang muncul di media sosial dapat memengaruhi pola konsumsi anak muda. Melihat teman atau influencer membeli barang tertentu, misalnya, dapat memunculkan keinginan untuk mengikuti tren tersebut. Karena itu, keputusan membeli perlu tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda. Anak muda kini dapat memanfaatkannya untuk berjualan secara daring, menjadi pekerja lepas, membuat konten, maupun membangun usaha melalui media sosial. Namun, peluang tersebut juga membutuhkan keterampilan digital, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan beradaptasi.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan OJK, LPS dan BPS pada 11 Agustus 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen. Untuk kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,32 persen, sementara kelompok usia 15–17 tahun berada di angka 56,04 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi keuangan bagi generasi muda masih menjadi bagian penting dalam upaya membangun kemampuan pengelolaan keuangan.

Aril menilai generasi muda perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, belajar mengelola keuangan sejak dini, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif. Sikap adaptif juga diperlukan karena kondisi ekonomi dan dunia kerja terus mengalami perubahan.

Melalui pemahaman ekonomi yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu mengelola uang secara lebih bijak, tetapi juga dapat memahami berbagai perubahan ekonomi di sekitarnya. Menjadi generasi yang melek ekonomi bukan berarti harus menjadi seorang ekonom, melainkan mampu mengambil keputusan secara rasional, mengelola sumber daya yang dimiliki, serta melihat peluang secara lebih cermat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....