FKN ke-9 Catat Transaksi Ekonomi Miliaran Rupiah

  • 06 Sep 2026 13:01 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Penyelenggaraan Festival Kopi Nusantara (FKN) ke-9 dan Tembakau di Kabupaten Bondowoso mencatatkan perputaran ekonomi sekitar Rp2 miliar. Nilai tersebut berasal dari transaksi ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama delapan hari pelaksanaan festival.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso mencatat sedikitnya 122 pelaku UMKM terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka membuka stan di area bazar maupun stan kopi dan tembakau.

Wakil Bupati Bondowoso As'ad Yahya Syafi'i mengatakan, FKN ke-9 menjadi momentum untuk kembali membangkitkan semangat Bondowoso sebagai Republik Kopi.

"Kopi arabika Ijen-Raung dan tembakau berkualitas tinggi khas Bondowoso adalah mahakarya unggulan yang siap menembus pasar internasional dan berdaya saing global," tutur As'ad.

Ia berharap penguatan komoditas unggulan tersebut memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha.

"Harapannya, kebangkitan ini memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani, meningkatkan perekonomian masyarakat luas, serta mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," pungkasnya.

Penutupan FKN ke-9 juga berlangsung meriah. Masyarakat Bondowoso disuguhi beragam hiburan, mulai dari pertunjukan Tari Molong Kopi hingga musik reggae yang menjadi rangkaian akhir festival.

Kalau Anda mau, saya juga bisa membuat versi **lebih tajam ala portal berita online**, dengan judul yang lebih menarik, lead lebih kuat, dan panjang sekitar 5–7 paragraf.

Sementara itu, Kepala DPKP Bondowoso Mulyadi mengatakan, nilai transaksi tersebut merupakan hasil estimasi tim berdasarkan aktivitas perdagangan selama festival berlangsung hingga malam penutupan pada Jumat, 4 September 2026 lalu.

"Hasil hitungan dari tim selama delapan hari transaksi, baik di stan e-Connect maupun stan UMKM, kurang lebih sekitar Rp2 miliar," ujar Molyadi.

Menurutnya, rata-rata transaksi yang diperoleh masing-masing stan berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp2 juta setiap malam. Selain memberikan dampak ekonomi secara langsung, FKN juga menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk kopi dan tembakau khas Bondowoso kepada masyarakat.

DPKP, kata Mulyadi, turut menggelar sejumlah kompetisi untuk memperkuat promosi sekaligus meningkatkan kreativitas pelaku usaha. Di antaranya lomba pemanfaatan limbah kopi, kompetisi meracik kopi, serta lomba rajang tembakau.

"FKN ini bukan hanya soal transaksi, tetapi juga menjadi ajang untuk mempromosikan produk-produk unggulan Bondowoso," katanya.

Molyadi menegaskan, upaya menjadikan kopi dan tembakau sebagai komoditas unggulan daerah tidak berhenti setelah festival berakhir. DPKP bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah membidik kerja sama dengan International Labour Organization (ILO) untuk menjalankan program pengembangan kopi di Bondowoso.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok kopi, meningkatkan kapasitas petani dan UMKM lokal, serta mempercepat ekspor kopi Bondowoso ke pasar internasional melalui eksportir lokal.

"Iya, ada dua rencana terdekat," ujar Mulyadi.

Selain kerja sama dengan ILO, DPKP juga tengah membangun komunikasi agar puluhan pengusaha asal Kamerun, Afrika, yang berencana berkunjung ke Indonesia dapat menyempatkan diri datang ke Bondowoso. Kunjungan tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama sekaligus memperkenalkan potensi agribisnis daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....