Investor Pasar Modal Sekarkijang Tembus 431 Ribu

  • 09 Agt 2026 01:22 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Jumlah investor pasar modal di wilayah Sekarkijang yang meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang terus meningkat. Hingga Mei 2026, jumlah investor berdasarkan Single Investor Identification (SID) mencapai 431.375 orang atau tumbuh 70,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan di tengah kinerja sektor jasa keuangan yang tetap terjaga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember mencatat pertumbuhan juga terjadi pada sejumlah sektor intermediasi keuangan di wilayah Sekarkijang.

Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Sekarkijang masih ditopang pertumbuhan ekonomi regional yang solid. Kinerja intermediasi perbankan hingga 31 Mei 2026 juga masih menunjukkan pertumbuhan positif.

"Selain pasar modal, kredit bank umum tumbuh 0,78 persen secara tahunan menjadi Rp62,42 triliun. Sementara kredit BPR dan BPRS meningkat 6,83 persen menjadi Rp2,58 triliun," ungkap Aris, Sabtu 8 Agustus 2026.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank umum tumbuh 16,58 persen menjadi Rp55,80 triliun. Namun, DPK BPR mengalami kontraksi 0,61 persen menjadi Rp2,18 triliun.

Pertumbuhan juga tercatat pada industri pembiayaan. Piutang perusahaan pembiayaan meningkat 4,34 persen secara tahunan menjadi Rp4,86 triliun dengan rasio pembiayaan bermasalah atau NPF sebesar 3,71 persen. Sementara pembiayaan modal ventura tumbuh 7,94 persen menjadi Rp411 miliar.

Di sektor perasuransian, premi asuransi jiwa hingga April 2026 tumbuh 58,28 persen menjadi Rp271,49 miliar. Klaim juga meningkat 25,92 persen menjadi Rp130,59 miliar.

Sementara itu, premi asuransi umum masih mengalami kontraksi 4,78 persen menjadi Rp56,26 miliar. Klaim asuransi umum juga turun 14,18 persen menjadi Rp25,67 miliar.

OJK juga mencatat pemanfaatan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) masih tinggi. Hingga Juni 2026, terdapat 2.978 permintaan layanan yang terdiri atas 1.472 layanan secara langsung dan 1.506 layanan melalui kanal daring.

Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan peningkatan akses layanan keuangan perlu diikuti dengan pemahaman masyarakat terhadap produk dan risiko keuangan. Karena itu, edukasi dan literasi keuangan terus diperluas kepada berbagai kelompok masyarakat.

Hingga Juni 2026, OJK Jember telah melaksanakan 36 kegiatan edukasi yang menjangkau 20.553 peserta. Kegiatan tersebut menyasar pelajar, mahasiswa, guru, nelayan, pelaku UMKM, penyandang disabilitas, profesional, hingga masyarakat umum.

Di sisi lain, digitalisasi layanan keuangan juga terus berkembang. Bank Indonesia Jember mencatat jumlah merchant QRIS sepanjang 2026 tumbuh rata-rata 27 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 24 persen pada 2025.

Pertumbuhan merchant tersebut diikuti peningkatan volume dan nominal transaksi QRIS. Kondisi ini menunjukkan penggunaan pembayaran digital semakin meluas di tengah masyarakat dan pelaku usaha.

OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memperkuat sinergi untuk memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan perlindungan dan literasi masyarakat. Upaya tersebut diarahkan agar pertumbuhan akses terhadap layanan keuangan dapat diikuti pemanfaatan yang aman dan produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....