Harga Kedelai Naik, UMKM Tempe di Jember Tertekan
- 26 Jun 2026 20:49 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Jember – Kenaikan harga kedelai impor dan lesunya pasar tradisional semakin menekan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum menunjukkan perbaikan.
Salah satu pelaku UMKM yang terdampak adalah produsen tempe di Balung, Iwan Wahyudi. Ia mengatakan harga kedelai impor asal Amerika Serikat kini mencapai Rp10.400 per kilogram, naik dari sebelumnya yang masih di bawah Rp9.000 per kilogram.
"Kenaikan ini sudah berlangsung beberapa minggu dan belum ada tanda-tanda turun. Modal produksi jadi bengkak, tapi harga jual tempe tidak bisa naik terlalu tinggi karena takut tidak laku," kata Iwan, Kamis, 26 Juni 2026.
Menurut Iwan, kenaikan harga kedelai dipengaruhi kondisi ekonomi global, melemahnya nilai tukar rupiah, serta tingginya kurs dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM kesulitan menekan biaya produksi.
Selain menghadapi kenaikan harga bahan baku, pelaku usaha juga mengeluhkan sepinya aktivitas di pasar tradisional Balung dan Ambulu. Menurunnya jumlah pembeli membuat omzet usaha terus mengalami penurunan.
"Kondisi ini memperparah keterpurukan pelaku usaha. Barang baku mahal, pembeli sepi. Kami benar-benar terjepit," ujar Iwan.
Iwan berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat. Menurutnya, kepastian harga bahan baku dan membaiknya kondisi pasar menjadi harapan pelaku UMKM agar usaha mereka tetap bertahan.
"Yang kami butuhkan sekarang adalah kepastian harga dan pasar yang kembali ramai. Tanpa itu, UMKM seperti kami sulit bertahan," tutur Iwan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Jember maupun dinas terkait mengenai langkah yang akan diambil untuk merespons keluhan pelaku UMKM di Kecamatan Balung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....