Alumni Unmuh Jember Sukses Bangun Bisnis Domba
- 20 Mei 2026 22:46 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember — Aroma pakan ternak dan suara domba mungkin bukan gambaran yang lazim melekat pada sosok perempuan muda lulusan manajemen. Namun bagi Yesita Karel, dunia peternakan justru menjadi ruang pembuktian bahwa keberanian bisa lahir dari tempat yang sederhana, lingkungan rumah dan tekad untuk mandiri.
Yesita, Alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) asal Sidomulyo, Kabupaten Jember itu berhasil mematahkan anggapan bahwa peternakan adalah bidang yang identik dengan laki-laki. Sejak masih duduk di bangku kuliah, ia telah membangun usaha peternakan dan penjualan domba bernama Artisnya Domba Jember.
Tahun 2017 menjadi awal langkahnya membangun usaha. Berbekal keberanian dan pengalaman hidup di lingkungan peternak, ia memutuskan memulai bisnis sendiri sejak semester awal kuliah.
“Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujar Yesita, Rabu 20 Mei 2026.
Namun jalan yang dipilihnya tidak selalu mulus. Menjadi peternak perempuan menghadirkan tantangan tersendiri. Bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menghadapi stigma sosial yang menganggap peternakan bukan ranah perempuan.
Di saat sebagian mahasiswa sibuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja setelah lulus, Yesita justru memilih jalan yang berbeda. Ia terjun langsung membangun usahanya sendiri.
Pilihan itu bukan muncul tanpa alasan. Sejak kecil, Yesita telah akrab dengan aktivitas peternakan. Lingkungan tempat tinggalnya di Sidomulyo dipenuhi peternak domba. Kandang, pakan ternak, hingga proses transaksi jual beli domba menjadi pemandangan sehari-hari yang perlahan membentuk ketertarikannya.
Di awal merintis usaha, rasa takut sempat menghampiri. Kekhawatiran barang tidak laku, risiko penipuan, hingga ancaman pencurian ternak menjadi bayang-bayang yang harus dihadapi.
Belum lagi keterbatasan pengetahuan teknis. Yesita harus belajar memahami usia ternak, kualitas domba, bobot ideal, jenis-jenis unggulan hingga sistem pengiriman bagi pembeli dari luar daerah.
Alih-alih menyerah, ia memilih belajar langsung di lapangan. Sedikit demi sedikit, pengalaman mengajarkannya banyak hal.
Cobaan terbesar datang ketika pandemi dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda. Aktivitas pengiriman domba sempat terhenti akibat pembatasan, sementara sebagian ternak di kandangnya terserang penyakit hingga mati.
“Pernah merasa sangat berat. Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.
Kesabaran dan ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2022 menjadi titik balik perkembangan usahanya. Penjualan meningkat pesat, sementara kualitas ternak yang dipasarkan ikut berkembang. Tidak lagi hanya menjual domba lokal, Yesita mulai menghadirkan jenis Merino, Dormas, hingga Sopas.
Perkembangan itu juga terlihat dari aset usaha yang dimiliki. Dari satu kandang sederhana, kini bisnisnya telah ditopang tiga kandang aktif.
Hasil jerih payahnya pun memberikan dampak nyata dalam kehidupan pribadi. Sejak semester satu hingga lulus, Yesita mampu membiayai uang kuliah sendiri. Dari usahanya, ia juga berhasil membeli motor, telepon genggam, hingga membantu renovasi rumah keluarga.
“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.
Bagi Yesita, kuliah bukan sekadar tempat menuntut ilmu akademik. Kampus juga menjadi ruang pembentukan karakter dan keterampilan hidup.
Ia mengaku belajar tentang disiplin, komunikasi, manajemen waktu, hingga keberanian mengambil keputusan.
Pelajaran paling berkesan justru datang dari pengalaman yang hampir menghambat proses kelulusannya. Saat semester akhir, perubahan judul skripsi tanpa koordinasi penuh dengan dosen pembimbing sempat membuatnya cemas.
Namun dari situ, ia memahami pentingnya komunikasi dan tanggung jawab—pelajaran yang kemudian ia terapkan dalam menjalankan bisnis.
“Mengambil langkah pertama adalah awal untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan Allah SWT tidak menunda, tetapi menata,” tuturnya.
Kini, Yesita terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan harapan menjadi ahli peternakan sekaligus pengusaha yang mampu membuka peluang bagi banyak orang.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang berani memulai dan bertahan. Dari balik kandang domba di Jember, seorang perempuan muda membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang tak pernah diduga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....