Sanggar Batik Tegar, Wadah Disabilitas Salurkan Kemampuan

  • 29 Jan 2025 17:57 WIB
  •  Jember

KBRN Bondowoso : Selain dikenal luas sebagai pusat kuliner tape dan kopinya yang lezat, Kabupaten Bondowoso juga menonjol dalam bidang seni dan budaya. Salah satu contohnya adalah keberadaan sanggar batik yang tidak hanya giat dalam melestarikan warisan budaya membatik, tetapi juga memiliki misi sosial dengan mengajarkan keterampilan membatik kepada para penyandang disabilitas.

Dengan penuh kesabaran dan dedikasi, mereka diajari teknik-teknik membatik yang rumit, yang kemudian dikembangkan menjadi kreasi yang lebih luas, seperti pembuatan odeng, semacam penutup kepala tradisional. Program ini tidak hanya memperkaya keterampilan seni mereka, tetapi juga memberikan mereka kesempatan untuk mandiri dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan ekonomi.

Adalah Sanggar Batik Tegar, di Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel milik Halifah. Wanita berusia 46 tahun itu telah cukup lama melaksanakan pelatihan membatik secara gratis bagi penyandang disabilitas. Maupun, para penyintas pengguna narkoba.

"Gratis semua," terangnya, Rabu (29/1/2025).

Tak hanya itu, wanita akrab disapa Ifah ini bahkan patungan bersama pendamping penyandang disabilitas bernama Meri, untuk membeli segala bahan-bahan. Mulai dari kain, kompor dan gas untuk mencanting, lem untuk pembuatan odeng dan lainnya.

Sementara beberapa peralatan menjahit, Ifah telah memilikinya sendiri. Adapun untuk kain biasanya Ifah membeli kain perca dari penjahit di sekitar.

"Beli bahan sendiri," jelasnya.

Menurutnya, untuk pembuatan batik mereka diajari dengan cara printing dan mencanting motif batik Sanggar Tegar.

Diakuinya, dalam mengajari semua keterampilan ini memang tak mudah. Karena keterbatasan para peserta. Namun Ifah bersyukur para peserta ini semangat dan selalu aktif mengikuti arahan darinya.

"Alhamdulillah semangat mereka luar biasa," urainya.

Ia mengatakan, inisiatif pelatihan secara mandiri bertujuan agar para penyandang disabilitas memiliki keterampilan yang bisa dilakukan di rumah. Kebanyakan para penyandang disabilitas yang sudah terampil membuat batik dan odeng ini dipekerjakan olehnya. Yakni, setiap pesanan batik atau pun odeng akan langsung dilempar untuk dikerjakan oleh penyandang disabilitas di rumahnya.

"Kemarin ada 16 orang belajar mencanting, yang bisa dipekerjakan ada 7. Selebihnya kita cari cara lagi, yakni diajari buat Odeng," tuturnya.

Hasil karya penyandang disabilitas ini, kata Ifah sudah ada yang dipesan oleh beberapa instansi di Bondowoso. Pihaknya berharap produk-produk penyandang disabilitas bisa tembus luar kota.

"Harapannya kita, ketika ini berjalan. Odeng ini untuk ke depannya bisa dibantu dari Dinas, dari instansi," urainya.

Menurutnya, harga Odeng buatan penyandang disabilitas ini beragam. Ada yang Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu.

Fathorozi, Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bondowoso, mengatakan, pertama kalinya penyandang disabilitas bisa membuat odeng ini.

"Kesulitan memang ada bagi teman-teman, untuk merangkai. Tapi ada instrukturnya," pungkasnya.

Kendati dirinya yang merupakan penyandang tuna daksa itu, mengakui kesulita belajar seperti merangkai kain, dan menjahit. Namun, karena ada instrukturnya jadi lebih mudah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....