Tradisi Turun Tanah Masih Dilestarikan Masyarakat Jember

  • 29 Mei 2026 15:44 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember- Tradisi turun tanah atau tedhak siten masih menjadi budaya yang dilestarikan sebagian masyarakat Jawa, termasuk di Kabupaten Jember. Tradisi ini biasanya dilakukan saat seorang bayi mulai belajar berjalan sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar anak tumbuh sehat serta memiliki masa depan yang baik.

Prosesi turun tanah dilakukan dengan berbagai rangkaian adat, seperti menginjak jadah berwarna, menaiki tangga dari tebu, hingga memasukkan anak ke dalam kurungan yang berisi berbagai benda simbolis. Benda yang dipilih anak dipercaya menggambarkan minat atau cita-cita di masa depan.

dalang asal wuluhan jember, Joni mengatakan tradisi turun tanah memiliki makna mendalam bagi keluarga.

“Tradisi ini merupakan bentuk doa dan harapan orang tua agar anak diberikan keselamatan, kesehatan, serta kehidupan yang baik di masa mendatang,” ujarnya saat ditemui RRI, Jumat (29/5/2026) pukul 10.00 WIB.

Menurutnya, meskipun zaman terus berkembang, masyarakat masih banyak yang mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.

Sementara itu, salah seorang warga Patrang Jember, Ainul Fauziah mengaku sengaja mengadakan acara turun tanah untuk anak pertamanya bersama keluarga besar.

“Selain melestarikan budaya, acara ini juga menjadi momen silaturahmi keluarga. Kami berharap anak tumbuh sehat dan menjadi kebanggaan keluarga,” katanya.

Tradisi turun tanah biasanya diselenggarakan secara sederhana di rumah dengan mengundang keluarga dan tetangga sekitar sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....