SPPB UI Dorong Situs Megalitikum Bondowoso Jadi Wisata Edukatif

  • 05 Okt 2026 12:43 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) mendorong pelestarian situs megalitikum di Kabupaten Bondowoso melalui pengembangan wisata edukatif berbasis masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, generasi muda, pegiat pariwisata, hingga pelaku UMKM.

Dorongan itu disampaikan dalam kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pelestarian dan Edukasi Wisata Situs Megalitikum di Kabupaten Bondowoso” yang digelar pada Minggu, 4 Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi SPPB UI dengan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan dibuka Kepala Disparbudpora Bondowoso Gede Budiawan dan dihadiri Paguyuban Kacong Jebing Bondowoso, pegiat pariwisata, serta jajaran staf Disparbudpora.

Ketua tim pengabdi yang juga peneliti Laboratorium T-SMART SPPB UI, Dr. Shobichatul Aminah, M.Si., mengatakan pengembangan situs megalitikum perlu mengubah cara pandang dari sekadar objek wisata menjadi sebuah ekosistem wisata.

“Dari objek wisata menjadi ekosistem wisata,” ujarnya, Senin, 5 Oktober 2026.

Menurutnya, situs megalitikum tidak cukup hanya menjadi lokasi yang dikunjungi wisatawan untuk berfoto, kemudian ditinggalkan. Situs tersebut perlu dikembangkan menjadi ruang pengalaman dan pembelajaran yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

Dalam konsep tersebut, masyarakat ditempatkan sebagai subjek pelestarian sekaligus pengembangan wisata. Masyarakat didorong untuk mengenali potensi, mengelola sumber daya, mengambil keputusan, menciptakan inovasi, memperoleh manfaat ekonomi, serta menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Pendekatan itu kemudian dikembangkan melalui konsep Megalithic Community Empowerment Model. Model tersebut diawali dengan pemetaan berbagai potensi, mulai dari situs, cerita, tokoh masyarakat, tradisi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di sekitar situs.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut. Paguyuban Kacong Jebing yang merepresentasikan generasi Z dan generasi Alpha dinilai memiliki posisi strategis untuk membangun narasi baru mengenai warisan budaya Bondowoso.

Generasi muda dapat berperan sebagai Young Heritage Ambassador dengan memanfaatkan berbagai platform dan teknologi digital. Peran itu antara lain melalui storytelling, fotografi, videografi, konten edukatif, digital mapping, hingga virtual tour.

Mereka juga dapat mengambil peran sebagai young historian, content creator, maupun local guide yang menjadi penghubung antara warisan budaya dengan pola generasi baru dalam memperoleh pengetahuan.

Selain pelestarian, kegiatan tersebut menekankan pentingnya menghadirkan konsep edukasi dalam pengalaman wisata. Wisatawan diharapkan tidak lagi sekadar datang, melihat, berfoto, kemudian pulang, tetapi dapat memahami, mengalami, belajar, dan membawa pulang pengetahuan.

Konsep itu dapat diwujudkan melalui storytelling, pemandu wisata, papan interpretasi, kode QR, hingga video edukasi yang menjelaskan sejarah dan nilai penting situs megalitikum.

Pengembangan wisata juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan dapat membuka peluang bagi pemandu lokal, kuliner, suvenir, homestay, transportasi, serta berbagai produk dan jasa lainnya.

Namun, pengembangan ekonomi tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan pelestarian. Manfaat ekonomi dari pariwisata diharapkan justru dapat memperkuat konservasi situs sehingga terbentuk siklus wisata, pendapatan, konservasi, peningkatan kualitas pengalaman wisata, dan penguatan ekonomi lokal.

Tim SPPB UI juga mendorong kolaborasi pentahelix dalam pengembangan wisata berbasis warisan budaya. Pemerintah daerah berperan dalam kebijakan dan fasilitasi, akademisi dalam riset, edukasi, serta dokumentasi, komunitas sebagai pengelola dan penggerak, dunia usaha dan UMKM dalam pengembangan produk ekonomi lokal, sementara generasi muda membawa inovasi, kreativitas, dan teknologi digital.

Kolaborasi SPPB UI dengan Pemkab Bondowoso diharapkan dapat mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan praktis dalam pengembangan pariwisata daerah.

Melalui kegiatan tersebut, situs megalitikum didorong untuk dipandang sebagai living heritage atau warisan budaya yang tetap hidup karena dipahami, diceritakan, dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keberhasilan pengembangan situs pun tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, keberhasilan diharapkan terlihat dari tetap terlindunginya situs, hidupnya pengetahuan tentang warisan budaya, semakin berdayanya masyarakat, terbukanya ruang bagi generasi muda, serta hadirnya manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, situs megalitikum di Bondowoso diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga aset pengetahuan, identitas, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan bagi masa depan pariwisata daerah.

Warisan budaya, pada akhirnya, bukan hanya sesuatu dari masa lalu yang disimpan, melainkan pengetahuan masa lalu yang dihidupkan untuk masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....