Tedhak Siten, Ungkapan Syukur dan Bekal Anak Menapaki Kehidupan

  • 28 Sep 2026 18:21 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Tedhak siten atau tradisi turun tanah merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang menandai fase penting dalam kehidupan seorang anak. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai prosesi ketika anak pertama kali menginjak tanah, tetapi juga mengandung simbol rasa syukur orang tua sekaligus doa dan harapan bagi perjalanan hidup anak.

Pinisepuh Padepokan Wahyu Purbo Sejati, Ki Bagus Wijaya menjelaskan bahwa Tedhak Siten di sejumlah wilayah Jember juga dikenal dengan istilah mudhun lemah atau turun tanah. Tradisi tersebut berkaitan dengan fase ketika seorang anak mulai diperkenalkan dengan bumi sebagai tempatnya kelak menjalani kehidupan.

“Secara filosofis ini adalah pertama kali seorang anak manusia turun ke bumi, atau dipandang sebagai Ibu Pertiwi. Tempat di mana dia nantinya akan hidup, berpijak, mencari penghidupan,” ujar Ki Bagus dalam siaran Ruang Budaya Pro 1 Jember, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, prosesi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tedhak siten dipandang sebagai bentuk laku batin orang tua untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan dan kesiapan bagi anak dalam menjalani kehidupannya.

“Maka tradisi ini bukan sekadar seremonial fisik melainkan sebuah laku batin dan wujud rasa syukur orang tua kepada Sang Pencipta, sekaligus memohon restu para leluhur agar sang anak diberi keselamatan, keteguhan hati, serta kesiapan mental untuk menapak realitas kehidupan yang sesungguhnya di masa depan,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, tradisi tedhak siten mengenal sejumlah simbol. Salah satunya adalah penggunaan kurungan yang di dalamnya diletakkan berbagai benda atau mainan sebagai pilihan bagi anak. Prosesi tersebut secara tradisional dapat dimaknai sebagai gambaran awal perjalanan anak dalam menentukan pilihan di kehidupannya.

R. Budi Siswanto Wongsodjono, Pinisepuh Yayasan Puri Asih Mustika Jiwa menjelaskan bahwa pelaksanaan tedhak siten umumnya berkaitan dengan usia anak sekitar tujuh atau delapan bulan. Namun, perhitungan tersebut tidak selalu menggunakan kalender Masehi, melainkan dapat menggunakan perhitungan selapan dalam tradisi Jawa.

“Ketika bayi ini umur 7 bulan atau 8 bulan, kisarannya antara itu. Anggaplah selapan... Sebetulnya bukan hitungan bulan Masehi, hitungan selapan itu, Mbak,” jelas Budi dalam program siaran yang sama.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi tersebut terdapat perhatian terhadap kesiapan fisik anak sebelum diperbolehkan turun ke tanah. Hal itu berkaitan dengan pandangan masyarakat Jawa terdahulu mengenai kondisi anak yang masih rentan ketika mulai berinteraksi dengan lingkungan.

Sementara itu, Ki Bagus mengaitkan tradisi tersebut dengan prinsip bahwa pengetahuan dalam budaya Jawa tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga melalui praktik dan pengalaman.

Ia mengutip ungkapan Jawa, “Ngelmu iku tinemune kanthi laku, lekase kalawan kas, kas tegese nyantosani.” Menurutnya, ilmu diperoleh melalui laku yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan terus-menerus, sehingga memberikan manfaat bagi pelakunya.

Dalam konteks tedhak siten, berbagai simbol yang digunakan dalam prosesi menjadi bagian dari cara masyarakat Jawa menyampaikan nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, tedhak siten dapat dipahami bukan sekadar tradisi turun tanah bagi seorang anak, tetapi juga sebagai bagian dari proses pewarisan nilai. Melalui simbol, doa, dan prosesi, orang tua menyampaikan harapan agar anak mampu tumbuh, berpijak, dan menjalani kehidupan dengan kesiapan serta penghargaan terhadap lingkungan dan kehidupan yang dijalaninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....