Makna Falsafah Dalihan Na Tolu dalam Suku Batak
- 28 Sep 2026 18:20 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember : Masyarakat Batak dikenal memiliki tatanan sosial dan kekeluargaan yang sangat kuat. Di balik ketahanan budaya tersebut, terdapat sebuah pondasi utama yang menjadi pedoman hidup, aturan adat, sekaligus falsafah hubungan antar manusia, yaitu Dalihan Na Tolu. Istilah tersebut berasal dari Batak Toba. Dalihan Na Tolu yang memiliki arti tungku berkaki tiga. Dalihan Na Tolu ini begitu dijunjung tinggi oleh Bangsa Batak pada umumnya, bahkan dijadikan falsafah dalam kehidupan masyarakat Batak. Dalihan Na Tolu memiliki nilai-nilai kehidupan yang sangat baik bahkan unik karena sifatnya yang saling mendukung satu sama lain. Maksudnya, dalam tradisi Batak terdapat tiga posisi penting kekerabatan bangsa Batak.
Dilansir RRI dari laman budaya-indonesia.org, Senin 28 September 2026, Orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut Dalihan Na Tolu (bahasa Toba), yang memiliki arti tungku berkaki tiga. Dalihan Na Tolu ini begitu dijunjung tinggi oleh Bangsa Batak pada umumnya, bahkan dijadikan falsafah dalam kehidupan masyarakat Batak. Dalihan Na Tolu memiliki nilai-nilai kehidupan yang sangat baik bahkan unik karena sifatnya yang saling mendukung satu sama lain. Maksudnya, dalam tradisi Batak terdapat tiga posisi penting kekerabatan bangsa Batak. Berikut ini makna dan urutan dalihan na tolu secara singkat :
Hula-hula (Somba Marhula-Hula) adalah kelompok kerabat dari pihak istri atau ibu. Kelompok ini berada pada posisi "di atas", sehingga disebut Somba Marhula Hula yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan karenda dalam pandangan tradisional Batak, Hula-hula dianggap sebagai sumber berkat (pasu-pasu).
Boru (Elek Marboru) adalah kelompok dari saudara perempuan dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut Elek Marboru artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.
Dongan Tubu (Manat Mardongan Tubu) adalah kelompok dari saudara satu keturunan marga atau teman sejawat. Manat Mardongan Tubu, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
Dalihan Na Tolu ini bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut. Ada saatnya menjadi Hula hula, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu dan ada saatnya menjadi Boru. Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan sistem demokrasi Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai-nilai yang universal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....