Tiga Kilometer Nyadran, Warga Tengger Ranupani Rawat Warisan Leluhur

  • 16 Agt 2026 16:56 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang- Tiga kilometer bukan sekadar jarak bagi warga Suku Tengger di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro. Pada puncak Hari Raya Adat Karo 2026, jarak tersebut menjadi bagian dari perjalanan bersama untuk mengingat leluhur dan merawat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari rumah Romo Dukun, warga berjalan menuju makam leluhur sambil membawa tamping, hidangan berupa nasi dan lauk yang telah disiapkan dari rumah. Anak-anak hingga orang dewasa mengikuti perjalanan tersebut dengan tertib.

Bagi masyarakat Tengger di Ranupani, perjalanan itu merupakan bagian dari Nyadran, yang menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Raya Karo. Tradisi tersebut mempertemukan penghormatan kepada leluhur dengan semangat gotong royong dan kebersamaan warga.

Berjalan untuk Mengingat Leluhur

Nyadran menjadi bagian penting dalam perayaan Hari Raya Karo. Warga mendatangi makam leluhur untuk berdoa, menabur bunga, serta mengungkapkan penghormatan dan rasa syukur atas kehidupan yang mereka jalani.

Bagi Mamik Forinta, warga Suku Tengger, Nyadran bukan hanya tentang mendatangi makam. Tradisi tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjuangan para leluhur sekaligus mensyukuri kehidupan masyarakat yang bergantung pada kesuburan tanah.

"Ini kita menghormati dan mengingat perjuangan para leluhur. Juga bersyukur kita di sini bertani, nanam kentang, bawang, itu tanahnya subur," kata Mamik di Desa Ranupani, Sabtu (15/8/2026).

Apa yang dibawa warga pun memiliki tempat dalam rangkaian tradisi tersebut. Tamping yang dibawa dari rumah berisi hidangan sehari-hari dan menjadi bagian dari prosesi Nyadran.

"Nama makanannya itu tamping yang isinya berupa masakan sehari-hari," ujarnya.

Sesampainya di makam, warga bergantian menjalankan doa dan menaburkan bunga. Perjalanan yang sejak awal dilakukan bersama kemudian berlanjut dalam prosesi penghormatan kepada leluhur.

Adat yang Menyatukan

Namun, yang terlihat dalam Nyadran bukan hanya rangkaian ritual.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana adat menjadi ruang kebersamaan masyarakat Tengger di tengah keberagaman keyakinan.

Ketua Pelestari Adat Sampurno menjelaskan bahwa masyarakat Tengger tetap menjaga ketentuan adat bersama meskipun memiliki keyakinan agama yang berbeda.

Menurutnya, keyakinan merupakan ranah pribadi, sedangkan adat menjadi kesepakatan bersama masyarakat.

"Pada intinya semua masyarakat itu walaupun agama beda-beda, tapi harus mengikuti peraturan adat. Kalau agama itu keyakinan masing-masing. Kalau adat itu yang punya masyarakat. Jadi bersama dilaksanakan dan dijaga," tutur Sampurno.

Penjelasan tersebut memperlihatkan adanya ruang bersama dalam kehidupan masyarakat: keyakinan tetap menjadi ranah masing-masing, sementara adat dijaga sebagai bagian dari kesepakatan sosial.

Menurut Sampurno, masyarakat tidak harus menjadikan seluruh tradisi adat sebagai keyakinan pribadi. Nilai-nilai baik yang terkandung di dalamnya justru dapat dirawat bersama untuk menjaga hubungan sosial dan kehidupan masyarakat.

Ketika Tradisi Diteruskan

Pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan sebuah ritual.

Di dalam Nyadran terdapat penghormatan kepada leluhur, rasa syukur atas kehidupan, gotong royong, serta kebersamaan. Nilai-nilai tersebut terus hidup ketika masyarakat menjalankannya, memahaminya, dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya.

Anak-anak yang ikut berjalan bersama orang dewasa menjadi bagian dari proses tersebut. Mereka tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi, tetapi hadir dan mengalami langsung bagaimana masyarakat menjalankan warisan leluhurnya.

Tiga kilometer perjalanan menuju makam leluhur pun menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup: dijalankan bersama, dimaknai bersama, dan diwariskan bersama.

Di lereng Semeru, langkah warga Ranupani pada perayaan Hari Raya Karo 2026 menjadi bagian dari cara masyarakat Tengger menjaga identitas budaya sekaligus merawat kebersamaan yang telah menjadi kekuatan komunitas mereka.

Sebab, warisan budaya tidak hanya tinggal di masa lalu. Ia tetap hidup setiap kali sebuah generasi memilih untuk menjalankannya dan memperkenalkannya kepada generasi setelahnya. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....