Wabup Lumajang: Grebeg Suro Mengajarkan Memetri Bumi dan Merawat Jati Diri Budaya

  • 05 Jul 2026 05:44 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Di tengah pesatnya pembangunan dan perubahan zaman, masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Nilai itulah yang terus hidup dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Yosowilangun Kidul, Kecamatan Yosowilangun, yang dinilai relevan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Lumajang.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, saat menghadiri perayaan Grebeg Suro di Desa Yosowilangun Kidul, Sabtu (4/7/2026). Tradisi yang diwarnai arak-arakan gunungan hasil bumi, alunan gamelan, dan pagelaran wayang kulit itu, menurutnya, bukan sekadar warisan budaya, melainkan pengingat bahwa menjaga bumi dan melestarikan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

"Grebeg Suro mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas karunia Tuhan, menjaga kelestarian bumi, serta memperkuat semangat gotong royong. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal penting dalam membangun Kabupaten Lumajang yang semakin maju, harmonis, dan sejahtera," ujar Yudha.

Menurutnya, kemajuan daerah tidak cukup diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebersamaan yang menjadi perekat kehidupan sosial.

Ia menilai, tradisi Grebeg Suro menjadi ruang pembelajaran lintas generasi untuk menanamkan kesadaran bahwa alam bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama. Karena itu, pelestarian budaya sekaligus menjadi upaya merawat nilai-nilai yang memperkuat karakter masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, mengajak setiap keluarga menjadikan rumah sebagai tempat pertama menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan budaya kepada anak-anak.

"Memetri bumi adalah wujud rasa syukur atas anugerah alam yang kita nikmati. Sedangkan nguri-uri budaya Jawa merupakan tanggung jawab bersama agar nilai sopan santun, gotong royong, dan kebersamaan tetap hidup di tengah perubahan zaman," tuturnya.

Menurut Dewi Natalia, keluarga memiliki peran penting dalam memastikan nilai-nilai tersebut terus diwariskan. Ketika anak-anak dibiasakan mencintai lingkungan, menghargai tradisi, dan hidup bergotong royong sejak dini, mereka tidak hanya mengenal budayanya, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama dan alam.

Ia mengapresiasi masyarakat Desa Yosowilangun Kidul yang terus menjaga Grebeg Suro sebagai tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Baginya, keberlangsungan budaya tidak ditentukan oleh besarnya sebuah perayaan, melainkan oleh kesediaan masyarakat untuk terus merawat dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi masyarakat Yosowilangun Kidul, Grebeg Suro bukan sekadar penanda datangnya Tahun Baru Jawa. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan akan memiliki makna yang lebih utuh ketika berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan, kekuatan budaya, dan semangat gotong royong. Dari nilai-nilai itulah jati diri Kabupaten Lumajang terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi masa depan. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....