Tradisi Selapan Jawa Simpan Nilai Budaya dan Kesehatan Ibu
- 30 Jun 2026 10:51 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Tradisi selapan atau 36 hari pasca persalinan dalam budaya Jawa tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga menyimpan berbagai praktik perawatan kesehatan ibu yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut mengemuka dalam program Ruang Budaya Pro 1 RRI Jember yang mengangkat tema “Daur Hidup Masyarakat Jawa Seri VII: Selapan Dina Pasca Bersalin”, Kamis 25 Juni 2026.
Dialog yang dipandu Etty Dharmiyati menghadirkan R. Budi Siswanto Wongsodjono, Pinisepuh Yayasan Puri Asustika Jawa (YPAMJ), serta Ki Bagus Wijaya, Pinisepuh Padepokan Wahyu Purbo Sejati.
R. Budi Siswanto menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, masa 36 hari setelah melahirkan dikenal sebagai fase Meguru Sukmo. Masa tersebut dipandang sebagai periode penting bagi pemulihan fisik dan batin seorang ibu setelah melewati proses persalinan yang penuh perjuangan.
“Pada masa ini seorang ibu membutuhkan suasana yang tenang, dukungan keluarga, serta perlakuan yang lembut agar proses pemulihan berlangsung optimal,” ujarnya dalam dialog.
Menurutnya, masyarakat Jawa sejak dahulu telah menempatkan ibu pasca melahirkan sebagai sosok yang harus mendapatkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan emosional.
Sementara itu, Ki Bagus Wijaya menggambarkan kondisi tubuh ibu setelah melahirkan seperti bumi yang baru saja mengalami guncangan besar. Karena itu, tubuh memerlukan waktu untuk kembali stabil, baik secara fisik maupun psikologis.
“Leluhur Jawa telah mengenalkan berbagai metode pemulihan seperti penggunaan jamu, parem, bengkung, hingga berbagai bentuk perawatan tradisional yang bertujuan membantu proses pemulihan tubuh,” katanya.
Dalam dialog tersebut, para narasumber juga menjelaskan sejumlah bentuk perawatan yang lazim dilakukan selama masa selapan.
Salah satunya adalah mandi wuwung atau prosesi membersihkan tubuh dengan mengguyur kepala terlebih dahulu. Tradisi ini dipercaya membantu menyegarkan pikiran dan mengurangi kelelahan pasca melahirkan. Selain itu, kebiasaan tersebut juga dinilai bermanfaat menjaga kebersihan dan kenyamanan ibu pada masa nifas.
Perawatan lainnya adalah penggunaan pilis, yaitu ramuan rempah yang dioleskan pada dahi. Dalam tradisi Jawa, pilis dipercaya membantu menjaga kesegaran tubuh serta meningkatkan kewaspadaan ibu dalam merawat bayi.
Selain itu terdapat penggunaan tapel dan stagen yang berfungsi membantu mengembalikan kondisi perut pasca persalinan. Ramuan tapel umumnya dibuat dari bahan-bahan alami seperti kapur sirih dan jeruk nipis yang dioleskan sebelum perut dibebat menggunakan stagen.
Tradisi lain yang turut dibahas adalah plipeh dan ratus cebok, yakni perawatan area kewanitaan menggunakan bahan-bahan herbal seperti kunyit, daun sirih, dan gambir yang telah lama dikenal dalam budaya Jawa.
Pada sesi interaktif, pendengar juga menanyakan mengenai tradisi jagongan bayi yang kini mulai jarang ditemui. Menanggapi hal tersebut, R. Budi Siswanto menjelaskan bahwa tradisi berkumpul dan berjaga bersama keluarga maupun tetangga pada malam hari memiliki fungsi sosial yang penting.
“Jagongan bayi bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga bentuk dukungan sosial kepada keluarga yang baru memiliki anak agar tidak merasa sendiri dalam menjalani masa-masa awal pengasuhan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan makna simbolis jajanan tradisional seperti iwel-iwel yang kerap hadir dalam rangkaian selapanan. Makanan tersebut dipercaya menjadi simbol doa dan harapan keselamatan bagi bayi yang baru lahir.
Menjelang akhir dialog, para narasumber menekankan pentingnya menjaga kondisi emosional ibu setelah melahirkan. Mereka menilai ketenangan batin dan dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam membantu kelancaran produksi ASI serta mempercepat proses pemulihan.
Berbagai tanaman herbal seperti daun katuk, daun luntas, dan lidah buaya juga disebut telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai pendukung kesehatan ibu menyusui.
Melalui program Ruang Budaya, RRI Jember mengajak masyarakat untuk memahami bahwa tradisi selapan bukan sekadar ritual budaya, melainkan juga warisan pengetahuan lokal yang memadukan nilai spiritual, sosial, dan kesehatan dalam mendampingi ibu pasca persalinan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....