Sanggar Tari Melati Putih Jember Konsisten Lestarikan Budaya

  • 30 Jun 2026 02:04 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Sanggar Tari Melati Putih SMP Negeri 1 Mayang terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni dan budaya tradisional di Kabupaten Jember. Kiprah sanggar yang kini telah memasuki generasi kesembilan tersebut menjadi pembahasan dalam program OBRAS (Obrolan Komunitas) Pro 1 RRI Jember, Selasa 23 Juni 2026.

Dialog menghadirkan Pembina Sanggar Tari Melati Putih, Sheila Citra Aditia, S.Pd., Ketua Sanggar Siti Alfiana L., serta anggota aktif Reftania Deslita Aura Putri, Navisatul Inayah, dan Khanza.

Sheila Citra Aditia menjelaskan Sanggar Tari Melati Putih berawal dari kegiatan ekstrakurikuler yang dibentuk pada 2018 untuk mengisi acara perpisahan siswa kelas IX. Pada masa awal berdirinya, kelompok tersebut lebih berfokus pada modern dance dan sempat menggunakan nama "Moon Girls".

Namun seiring berjalannya waktu, sanggar mengubah arah pembinaan dengan fokus pada seni tari tradisional sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus pelestarian budaya bangsa.

“Memasuki generasi ketiga, kami mulai beralih ke tari tradisional. Nama Melati Putih dipilih sebagai simbol ketulusan dan identitas budaya Indonesia yang ingin terus kami lestarikan,” ujar Sheila.

Untuk memperkenalkan seni tari tradisional kepada para anggota, Sanggar Melati Putih memulai pembelajaran melalui Tari Labako yang merupakan salah satu kesenian khas Jember. Langkah tersebut dinilai efektif untuk membantu siswa beradaptasi dari gerakan tari modern menuju tari tradisional yang lebih halus dan sarat makna.

Hingga 2026, jumlah anggota lintas generasi yang pernah bergabung di Sanggar Tari Melati Putih telah mencapai lebih dari 100 orang. Regenerasi terus berjalan dengan melibatkan siswa sekolah dasar, pelajar SMP, hingga alumni yang kini menempuh pendidikan di tingkat SMA.

Ketua Sanggar Tari Melati Putih, Siti Alfiana, mengatakan jadwal latihan disusun secara disiplin agar tidak mengganggu aktivitas belajar para anggota. Siswa SMP berlatih sepulang sekolah mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, sementara anggota dari jenjang SMA mengikuti latihan pada sore hari sesuai waktu luang mereka.

Menurutnya, menjaga semangat anggota menjadi tantangan tersendiri. Untuk menghindari kejenuhan, pembina kerap menyisipkan permainan interaktif dan membangun kedekatan emosional dengan para anggota.

“Kami berusaha menciptakan suasana latihan yang menyenangkan agar teman-teman tetap semangat dan nyaman saat belajar tari,” kata Viana, sapaan akrab Siti Alfiana.

Selain berlatih rutin, anggota sanggar juga terus memperkaya wawasan seni melalui berbagai referensi, mulai dari media digital hingga kunjungan langsung ke daerah yang dikenal sebagai pusat kebudayaan seperti Bali dan Yogyakarta.

Di balik proses latihan, para anggota juga memiliki pengalaman yang berkesan saat mendalami berbagai tarian tradisional. Salah satunya ketika membawakan Tari Seblang Lukat asal Banyuwangi yang sarat unsur ritual dan simbol budaya.

Navisatul Inayah mengaku pernah merasakan suasana yang berbeda saat mendalami tarian tersebut. Meski demikian, seluruh anggota tetap fokus menjalani latihan dengan selalu mengawali dan mengakhiri kegiatan melalui doa bersama.

Komitmen dalam menjaga kualitas pembinaan membuahkan hasil membanggakan. Sanggar Tari Melati Putih berhasil meraih Juara 1 tingkat Kabupaten Jember pada ajang perlombaan yang digelar di SMA Muhammadiyah 3 Jember melalui penampilan tari "Rundung Semeru" dan "Seblang Lukat".

Sheila mengungkapkan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan penuh pihak sekolah, terutama Kepala SMP Negeri 1 Mayang, Rusmi Tiningsih, yang selalu memberikan motivasi serta dukungan fasilitas bagi para siswa saat mengikuti kompetisi.

“Alhamdulillah, banyak alumni yang juga berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah favorit melalui jalur prestasi seni tari,” ujarnya.

Saat ini, Sanggar Tari Melati Putih membuka kesempatan bagi siswa SD, SMP, hingga SMA di wilayah Mayang dan sekitarnya untuk bergabung tanpa dipungut biaya.

Di akhir dialog, Sheila mengajak generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Teruslah semangat menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Jika bukan generasi muda yang meneruskan, maka siapa lagi yang akan menjaga warisan budaya bangsa ini,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....