Aparloh Sandorellang Hidupkan Kembali Ritus Leluhur Jember
- 31 Mei 2026 11:16 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Pelestarian warisan budaya takbenda menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga identitas masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi. Salah satu tradisi yang terus dijaga keberlangsungannya adalah Aperloh Sandorellang, ritus budaya masyarakat Dusun Mojen, Desa Klungkung, Kabupaten Jember.
Tradisi tersebut menjadi pembahasan dalam program "Suara Nusantara" Pro 1 RRI Jember pada Rabu, 27 Mei 2026 yang menghadirkan penggerak seni budaya Jember, Srawung Satra penyelenggara program aperloh sandorellang, Sulung Lukman dan dokumenter program aperloh sandorellang, Doni Oyot serta sutradara reportoar hikayat sandorellang, Anggara Wijayanto.
Doni Oyot menjelaskan, Aperloh Sandorellang merupakan kegiatan budaya yang berakar dari tradisi masyarakat setempat. Secara etimologis, aperloh berarti memiliki hajat atau menggelar acara, sandur merujuk pada tarian ritual, sedangkan relang bermakna kembali ke asal.
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki kekhasan tersendiri. Jika masyarakat Madura umumnya melaksanakan tradisi pulang kampung saat Idul adha, warga Dusun Mojen justru berkumpul pada 10 Sura atau 10 Muharram untuk menjalankan amanah leluhur.
"Masyarakat berkumpul untuk melaksanakan kenduri, tawasul, zikir bersama, dan menggelar ritus Sandur Elang sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun," ujarnya.
Dalam proses pendokumentasian, Doni mengaku mendapatkan banyak pengalaman berharga mengenai makna sebuah tradisi. Salah satunya ketika mendengar penjelasan sesepuh Sandur Elang, Ustaz Baburrahman, tentang pentingnya keyakinan dalam menjalankan ritual budaya.
Penjelasan tersebut, menurutnya, memberikan pemahaman bahwa tradisi tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Sementara itu, Sulung Lukman mengatakan Srawung Sastra tidak bermaksud mengubah ritus asli yang bersifat sakral. Kegiatan yang dilakukan lebih diarahkan pada upaya memahami, mendokumentasikan, dan mengenalkan nilai-nilai budaya tersebut kepada generasi muda melalui berbagai karya kreatif.
Beberapa bentuk pengembangan yang dilakukan antara lain melalui Repertoar Hikayat Sandorelang berupa pertunjukan teater, pendokumentasian mantra ke dalam media rontal, serta pengembangan motif Batik Pamjan yang terinspirasi dari jejak sejarah dan situs budaya di Desa Klungkung.
"Kami ingin tradisi yang selama ini hidup secara lisan dapat dikenalkan dalam berbagai bentuk karya sehingga lebih mudah dipahami dan diterima generasi muda," katanya.
Menurut Sulung, proses alih wahana budaya menjadi tantangan tersendiri karena harus tetap menjaga esensi nilai yang terkandung dalam tradisi asli.
Sutradara Repertoar Hikayat Sandorelang, Anggara Wijayanto, mengaku terkesan dengan kekuatan spiritual yang terkandung dalam ritus tersebut. Ia mengisahkan pengalamannya saat mengikuti prosesi menari mengelilingi gunungan hasil bumi bersama masyarakat di kawasan Sendang Pamujan.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan hubungan erat antara manusia, budaya, dan alam yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tradisional.
"Pesan yang paling kuat dari tradisi ini adalah mengingatkan kita agar tidak melupakan alam semesta. Nilai itu sangat relevan dengan kehidupan saat ini," ujarnya.
Melalui berbagai upaya dokumentasi dan pengembangan karya seni, tradisi Aperloh Sandorelang diharapkan tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami kearifan lokal yang diwariskan leluhur.
Lestarinya tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....