Mepe Kasur Kemiren Simbol Doa dan Keselamatan Warga
- 21 Mei 2026 15:09 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Memasuki bulan Dzulhijjah, warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi kembali menggelar tradisi Mepe Kasur atau menjemur kasur, Kamis, 21 Mei 2026. Tradisi khas masyarakat Osing tersebut menjadi bagian dari rangkaian ritual adat bersih desa yang rutin digelar setiap tahun dalam menyambut bulan haji.
Sejak pagi hari, ribuan kasur berwarna merah dan hitam tampak dijemur serempak di depan rumah warga sepanjang jalan desa. Pemandangan kasur yang seragam itu menjadi daya tarik khas yang hanya dapat ditemui setahun sekali saat ritual berlangsung. Warga dari berbagai usia terlihat membersihkan kasur dengan cara memukulnya menggunakan penebah rotan agar debu yang menempel hilang.
Salah satu warga Desa Kemiren, Mbah Pi’i mengatakan warna merah dan hitam pada kasur memiliki filosofi mendalam bagi masyarakat Osing. Menurutnya, warna tersebut bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol doa dan harapan dalam kehidupan rumah tangga.
“Merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam berarti kelanggengan. Ini jadi simbol bahwa dalam rumah tangga kita harus berani dan langgeng dalam menjalaninya,” ujar Mbah Pi’i, Kamis 21 Mei 2026.
Ketua Adat Kemiren, Suhaimi menjelaskan kasur menjadi benda yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga wajib dibersihkan secara ritual. Ia mengatakan prosesi penjemuran dilakukan pada waktu tertentu dan disertai doa khusus demi keselamatan warga.
“Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” tutur Suhaimi.
Menurut Suhaimi, seluruh kasur yang dijemur harus sudah dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum sore hari. Jika aturan adat tersebut dilanggar, masyarakat percaya khasiat spiritual kasur untuk menangkal penyakit dan membawa berkah akan hilang.
“Kalau sampai sore nanti khasiatnya menurun. Apalagi kalau kemalaman, bisa tidak sehat,” ucap Suhaimi.
Selain warna dan waktu penjemuran, ketebalan kasur juga memiliki makna tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Osing. Semakin tebal kasur, menunjukkan pemiliknya termasuk warga yang berkecukupan. Kasur tersebut juga menjadi hadiah wajib bagi pasangan yang baru menikah sebagai simbol ikatan keluarga.
Tradisi Mepe Kasur sekaligus menjadi pembuka rangkaian festival adat Tumpeng Sewu yang digelar selama dua hari pada Kamis hingga Jumat, 21–22 Mei 2026. Setelah prosesi penjemuran kasur selesai, warga dan wisatawan disuguhi pertunjukan kesenian Kuntulan, dilanjutkan arak-arakan Barong keliling desa pada sore hari serta selamatan Tumpeng Sewu dan Mocoan Lontar Yusuf pada malam harinya.
Tradisi Mepe Kasur dan Tumpeng Sewu menjadi bukti masyarakat Osing tidak hanya menjaga kebersihan lahir dan batin, tetapi juga terus merawat nilai kebersamaan dan warisan budaya leluhur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....