Tiban Sodo Purwo Hidupkan Tradisi Adu Pecut di Banyuwangi
- 15 Mei 2026 18:15 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Suara gemeretak pecut kembali menggema di kawasan Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Tradisi Kesenian Tiban bertajuk “Tiban Sodo Purwo” kembali digelar sebagai upaya melestarikan budaya leluhur yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Banyuwangi.
Perhelatan budaya tersebut berlangsung selama sepekan, mulai 10 hingga 17 Mei 2026. Sejak hari pertama pelaksanaan, ratusan warga tampak memadati arena untuk menyaksikan para peserta saling adu ketangkasan menggunakan pecut dari lidi aren.
Kesenian Tiban dikenal sebagai ritual tradisional pemanggil hujan yang telah lama hidup di tengah masyarakat Banyuwangi. Dalam pertunjukan tersebut, dua pemain bertelanjang dada saling bergantian mencambuk tubuh lawan dengan pecut sambil menunjukkan keberanian dan ketahanan fisik.
Meski terlihat keras, tradisi ini sarat nilai sportivitas dan persaudaraan. Bekas cambukan yang membekas di tubuh para pemain dianggap sebagai bagian dari simbol perjuangan dan kekuatan.
Koordinator kegiatan, Suharsoyo, mengatakan penyelenggaraan Tiban Sodo Purwo bertujuan menjaga eksistensi budaya lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kegiatan ini kami gelar untuk melestarikan kesenian tradisional warisan nenek moyang agar tetap hidup dan dikenal masyarakat luas,” ujar Suharsoyo, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi daerah di tengah arus modernisasi dan budaya luar yang semakin kuat.
“Harapan kami generasi muda tidak melupakan budaya sendiri. Tradisi ini harus terus dijaga dan diwariskan,” kata Suharyoso.
Panitia juga menerapkan aturan ketat demi menjaga keselamatan peserta. Cambukan dilarang diarahkan ke wajah dan area vital tubuh. Seluruh peserta diwajibkan menggunakan perlengkapan pengaman, termasuk helm saat berada di arena.
Salah satu peserta, Moch Bagus Tirta Samudra (22), warga Desa Grajagan, mengaku bangga bisa ikut ambil bagian dalam tradisi tersebut meski baru pertama kali tampil.
“Menurut saya ini sangat bagus sebagai cara nguri-uri budaya lokal agar tidak hilang dimakan zaman,” ujar Bagus.
Kemeriahan Tiban Sodo Purwo tidak hanya menarik perhatian warga sekitar. Sejumlah pengunjung dari luar daerah juga datang untuk menyaksikan langsung tradisi unik khas Banyuwangi tersebut. Bahkan anak-anak tampak antusias ikut meramaikan suasana dengan pengawasan panitia dan orang tua.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....